Terlebih korban tidak mempunyai asuransi maupun BPJS, sehingga pengobatan dengan biaya mandiri tanpa tanggung jawab pelaku. Meskipun begitu, dia terus berjuang untuk sembuh dan berharap keadilan segera ditegakkan. Hifridha baru saja lulus dan memiliki impian untuk kuliah, namun kecelakaan ini membuatnya terhenti sejenak dalam perjalanan pendidikannya.
“Saat ini, Hifridha membutuhkan dukungan untuk biaya pengobatan yang terus meningkat. Setiap bantuan dan informasi sangat berarti, baik untuk biaya medis ataupun membantu pencarian pelaku yang melarikan diri. Kami sangat menghargai segala bentuk dukungan yang diberikan,” ujar teman dekatnya.
BACA JUGA: Bank Kalsel Bersama OJK dan Pemda Wujudkan Kolaborasi Ketahanan Pangan & Dorong Ekonomi Daerah
Setelah kejadian, Hifridha segera dibawa rescue ke IGD RS Sultan Agung Banjarbaru. Tim medis melakukan pemeriksaan awal dengan CT scan untuk mendeteksi cedera otak dan rontgen untuk melihat patah tulang selangka. Ditemukan adanya sobekan pada kepala yang cukup parah, yang langsung ditangani dengan tindakan pembersihan dan penjahitan luka.
Selain itu, korban juga mengalami patah tulang selangka yang mengakibatkan tangan kiri sulit digerakkan. Dokter memutuskan untuk memberikan perawatan darurat dan antibiotik untuk mencegah infeksi. Kami sangat berterima kasih atas bantuan finansial untuk kesembuhannya.
Hifridha Sari berasal dari keluarga sederhana di Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Ayahnya bekerja di PT Carsurin dengan penghasilan sekitar Rp3.000.000—5.000.000 per bulan yang sulit untuk hidup sehari-hari, sementara ibunya tidak bekerja karena fokus mengurus rumah dan adik Hifridha, Shiwa Ridha, yang masih duduk di bangku SD. Hifridha adalah anak pertama perempuan yang menjadi harapan besar keluarga.
Sejak kecil, Hifridha dikenal sebagai anak yang rajin, tekun, dan selalu berprestasi. Ia pernah meraih berbagai penghargaan tingkat nasional, diundang ke DPR RI, hingga mendapat penghargaan sebagai Wirausaha Muda Cemerlang karena membangun bimbingan belajar yang bermanfaat bagi banyak orang.
Meskipun hidup dalam keterbatasan, Hifridha terus semangat belajar dan berkarya dari prestasinya, karena pendidikan adalah satu-satunya jalan yang ia yakini bisa mengubah masa depan keluarganya.
Tragisnya, kecelakaan terjadi saat Hifridha dalam perjalanan mengantar buku ke temannya di Banjarbaru sekaligus menghadiri rapat persiapan lomba Pemuda Pelopor tingkat Provinsi Kalsel 2025. Perjalanan penuh niat baik itu berubah menjadi musibah yang menghentikan langkah besarnya sejenak.







