BOGOR, KALIMANTANLIVE.COM – Jumlah siswa yang diduga keracunan akibat menyantap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bogor terus meningkat. Hingga Sabtu (10/5/2025), total korban tercatat mencapai 214 siswa dari sembilan sekolah berbeda.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Sri Nowo Retno, menyebutkan bahwa kasus ini pertama kali dilaporkan pada Rabu (7/5/2025) dan terus bertambah hingga akhir pekan.
“Perkembangan hingga tanggal 10 Mei 2025 terjadi penambahan empat kasus, sehingga total korban saat ini mencapai 214 orang,” ujar Retno dalam keterangannya, Minggu (11/5/2025).
# Baca Juga :HEBOH! Bill Gates Hari Ini Terbang ke Indonesia Temui Prabowo, Siap Guyur Dukungan Program MBG!
# Baca Juga :KLB Keracunan Massal di Cianjur: Puluhan Siswa dan Guru Dilarikan ke RS Usai Santap Makanan MBG
# Baca Juga :Bupati Tabalong Apresiasi Dunia Usaha Bagikan MBG bagi Pelajar di Upau
# Baca Juga :Siapkan Anggaran 46 Miliar, Pemkab Balangan Siap Dukung Program MBG untuk Puluhan Ribu Siswa
Korban Tersebar di 9 Sekolah, Puluhan Masih Dirawat
Kasus dugaan keracunan MBG ini melibatkan sembilan sekolah, dengan rincian sebagai berikut:
TK Bina Insani: 25 siswa
SD Bina Insani: 10 siswa
SMP Bina Insani: 94 siswa
SMA Bina Insani: 1 siswa
SDN Kukupu 3: 8 siswa
SDN Kedung Waringin: 7 siswa
SDN Kedung Jaya 1: 16 siswa
SDN Kedung Jaya 2: 45 siswa
SMP Bina Graha: 8 siswa
Dari total korban, 34 siswa masih menjalani perawatan di rumah sakit, sementara 45 siswa lainnya menjalani rawat jalan. Sebanyak 129 siswa mengalami keluhan ringan dan telah diperbolehkan pulang.
Sumber Makanan dari Dapur SPPG Diduga Jadi Pemicu
Dugaan awal menyebut dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bosowa Bina Insani sebagai sumber keracunan. Dapur ini diketahui mendistribusikan menu MBG ke sedikitnya 12 sekolah.
Kasus pertama terungkap pada Rabu (7/5/2025), saat 36 siswa Sekolah Bosowa Bina Insani mengalami gejala keracunan setelah menyantap menu MBG.
“Dinas Kesehatan tengah melakukan investigasi epidemiologis untuk mencari sumber kejadian. Kami juga berkoordinasi dengan sekolah dan instansi terkait untuk pengambilan sampel dan edukasi masyarakat,” kata Retno.









