Terpuruk Parah! Nissan Bakal PHK 20.000 Karyawan di Seluruh Dunia, Ini Alasannya

KALIMANTANLIVE.COM – Nasib kelam tengah menyelimuti Nissan, salah satu raksasa otomotif asal Jepang. Terus mencatat kerugian dan gagal keluar dari tekanan, Nissan dikabarkan akan melakukan PHK massal terhadap 20.000 karyawan secara global—terbesar dalam sejarah perusahaan tersebut dalam dua dekade terakhir!

Kabar mengejutkan ini pertama kali dibocorkan oleh stasiun televisi Jepang, NHK, yang menyebut angka tersebut setara dengan 15% dari total tenaga kerja global Nissan. Padahal pada November 2024 lalu, Nissan baru saja mengumumkan rencana PHK 11.000 karyawan. Kini, jumlah itu melonjak hampir dua kali lipat!

Penjualan Anjlok 94%, Nissan Masuki Fase Krisis

Nissan terjebak dalam badai penurunan penjualan yang sangat tajam, terutama di dua pasar terbesarnya—Amerika Serikat dan China—dengan penurunan mencapai 94%. Persaingan sengit dari produsen mobil listrik dan inovasi agresif dari pabrikan China membuat Nissan kehilangan daya saing secara signifikan.

Sinyal bahaya sudah muncul sejak tahun lalu, namun kondisi makin parah setelah rencana merger strategis dengan Honda dan Mitsubishi gagal total pada Februari 2025. Merger yang sempat membawa harapan itu kandas, dan Nissan kembali tenggelam dalam krisis terburuknya dalam 26 tahun terakhir.

Kerugian Jumbo dan Beban Utang Menggunung

Dalam laporan kepada para pemegang saham, Nissan mengungkap prediksi kerugian restrukturisasi hingga USD 5 miliar atau sekitar Rp 82,6 triliun untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2025.

Tak hanya itu, beban utang jatuh tempo juga jadi momok menakutkan. Nissan menghadapi kewajiban pembayaran sebesar:

USD 1,6 miliar (Rp 26,4 triliun) pada tahun ini

USD 5,6 miliar (Rp 92,5 triliun) pada tahun 2026

Situasi ini memperparah ketidakpastian di tubuh perusahaan yang tengah kehilangan arah.

Dihantam Perang Tarif Trump dan Dominasi China

Salah satu pukulan besar yang dialami Nissan datang dari kebijakan proteksionis Presiden AS Donald Trump yang memberlakukan tarif impor tinggi untuk kendaraan Jepang. Hal ini menjadi beban berat tambahan di tengah persaingan yang semakin tidak seimbang.

Sementara itu, dominasi China di pasar global, terutama pada kendaraan listrik dan teknologi otomotif baru, telah membuat Nissan kehilangan pangsa pasar secara signifikan.