JAKARTA, Kalimantanlive.com – Raksasa otomotif Jepang, Toyota, dikabarkan tengah menjajaki kemungkinan akuisisi terhadap Neta Auto, produsen kendaraan listrik asal Tiongkok yang kini menghadapi tekanan finansial serius. Langkah ini diyakini sebagai bagian dari strategi Toyota untuk memperkuat pijakan di pasar kendaraan listrik Tiongkok sekaligus mempercepat inovasi teknologi EV.
Berdiri sejak 2014 di bawah naungan Hozon New Energy Auto, Neta Auto sempat mencuri perhatian lewat portofolio kendaraan listrik terjangkau. Namun sejak 2024, perusahaan ini dilanda krisis likuiditas yang memaksa mereka menghentikan produksi dan melakukan PHK massal.
BACA JUGA: BYD Tang L Resmi Meluncur: SUV Futuristik dengan Drone Pintar untuk Kreasi Konten Otomatis
Salah satu upaya penyelamatan sempat dilakukan melalui putaran pendanaan E-round senilai USD 552–621 juta, dengan dukungan dari dana BRICS sebesar 3 miliar yuan. Sayangnya, karena syarat operasional dan jaminan investasi tidak terpenuhi, kesepakatan tersebut gagal.
Daya Tarik Toyota terhadap Aset Neta
Toyota diyakini melihat peluang strategis dalam kondisi kritis Neta. Meski sedang terpuruk, Neta memiliki:
- Teknologi EV kompetitif untuk segmen menengah bawah
- Jaringan pasar dan produksi lokal di China
- Dukungan finansial terbatas dari investor regional seperti Solotech (Hong Kong) dan institusi Thailand
Jika akuisisi terlaksana, Toyota dapat memanfaatkan infrastruktur dan teknologi Neta untuk mempercepat penetrasi di pasar EV terbesar dunia, tanpa harus membangun dari nol.
Nilai Neta turun drastis. Pada awal 2025, sempat diajukan proposal akuisisi 50% saham senilai hanya 3 miliar yuan—menandakan penurunan valuasi hingga 80%.







