Krisis Integritas, Masih Adakah Figur Barito Utara Mampu Dipilih Tanpa Money Politics?

MUARA TEWEH, KALIMANTANLIVE.COM – Barito Utara telah menggoreskan catatan paling suram dalam sejarah daerahnya. Kabupaten yang tergolong paling maju di Kalteng ini sekarang menjadi objek pembicaraan nasional tentang “prestasi” politik uang terbesar dalam sejarah Indonesia. Setidaknya bisa disebut begitu.

Paslon Agi Saja dengan Bupatinya Akhmad Gunadi Nadalsyah, yaitu keponakan kandung istri H. Jawawi (yang kini mulai digadang-gadang masuk bursa Calon Bupati dianggap akan melanjutkan Agi Saja), Agi Saja diyakini Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) telah melakukan politik uang yang paling fantastis hingga mencapai total 64 juta rupiah untuk satu keluarga.

Malangnya lagi, setelah beberapa kali gagal memilih Pemimpin yang sudah banyak memakan anggaran daerah dalam jumlah yang luar biasa, Barito Utara dijadikan sebagai contoh lagi untuk Kabupaten lain agar sadar bagaimana konsekwensi yang diterima bila melakukan politik uang.

Seolah-olah apabila melaksanakan Pilkada maka daerah lain diminta untuk mengingat Barito Utara, ingat Barito Utara maka ingat politik uang. Politik uang di Barito Utara juga sudah dianggap sebagai budaya dan struktur politik lokalnya.

BACA JUGA : Barito Utara Masih Ada Orang Baik, Inspirasi dan Motivasi 2025 Dari ;Jambu;

Separah itukah Barito Utara? Apakah tidak ada di Barito Utara figur relatif bersih yang layak dijadikan suri tauladan anti politik uang, bersih dan berintegritas?

Tempatnya ada di Kelurahan Jambu, kampung seberang sungai Barito kota Muara Teweh. Politisi yang terbilang baru masuk arena politik dengan menjadi anggota DPRD itu, jauh sebelum dirinya menginjakan kakinya di gedung wakil rakyat daerah, masyarakat disana sudah mengenalnya sebagai sosok yang dermawan dan dekat dengan bermacam kesulitan rakyat.

Ia maju menjadi anggota dewan atas dorongan masyarakat dan tokoh-tokoh kecamatannya. Menurut sang adik kepada Kalimantan Live dalam suatu kesempatan, pada saat detik-detik pengumuman penentuan apakah dirinya akan berhasil menjadi anggota DPRD, ia sangat santai dan tidak terlalu antusias menunggu hasilnya.

“Mungkin Caleg di Indonesia yang begitu hanya dia,” kata sang adik tanpa bermaksud membesar-besarkan saudaranya sendiri.