KALIMANTANLIVE.COM – Seorang pendaki gunung wanita di Pegunungan Alpen, Italia, secara tak sengaja menemukan peninggalan luar biasa dari masa lalu: sebuah fragmen utuh dari ekosistem berusia 280 juta tahun, lengkap dengan jejak kaki hewan purba, fosil tumbuhan, dan bahkan bekas tetesan air hujan dari era Permian.
Penemuan langka ini terjadi pada tahun 2023, ketika Claudia Steffensen tengah mendaki di Taman Pegunungan Valtellina Orobie, Lombardy, Italia. Saat itu, ia tanpa sengaja menginjak sebuah batu yang permukaannya tampak tidak biasa.
# Baca Juga :Ayat Seribu Dinar: Bacaan dan Cara Mengamalkannya untuk Kelancaran Rezeki
# Baca Juga :Macaulay Culkin Tolak Rp 49 Miliar! Disney Gagal Bujuknya Kembali ke Home Alone
# Baca Juga :Drama di San Siro! Inter Ditahan Lazio 2-2, Scudetto di Ujung Tanduk
# Baca Juga :Juventus Dekati Liga Champions! Bungkam Udinese 2-0 di Pekan ke-37
“Saya melihat desain melingkar aneh dengan garis-garis bergelombang. Ketika saya perhatikan lebih dekat, saya sadar bahwa itu adalah jejak kaki,” kata Steffensen, dikutip dari The Guardian.
Ekspedisi Berlanjut: Jejak Reptil Purba hingga Benih Tanaman
Penemuan tersebut kemudian dianalisis oleh para ilmuwan yang mengonfirmasi bahwa jejak kaki itu milik reptil prasejarah. Temuan awal ini memicu serangkaian ekspedisi lanjutan di kawasan Alpen yang akhirnya membuahkan hasil mengejutkan: bukti keberadaan satu ekosistem lengkap dari periode Permian (299–252 juta tahun lalu), sebuah zaman yang dikenal dengan perubahan iklim ekstrem dan peristiwa kepunahan massal “Great Dying”.
Para ahli paleontologi berhasil mengidentifikasi fosil jejak kaki dari reptil, amfibi, serangga, dan artropoda, serta jejak tanaman seperti benih, daun, dan batang. Bahkan, ditemukan pula bekas tetesan air hujan dan gelombang di tepi danau purba.
Ditemukan di Ketinggian 3.000 Meter
Menariknya, seluruh fosil ini tersebar hingga ketinggian 3.000 meter di pegunungan, hingga ke dasar lembah. Fosil-fosil tersebut terpelihara luar biasa baik karena terkubur dalam batu pasir berbutir halus dan sering tergenang air di masa lalu.
Menurut Ausonio Ronchi, paleontolog dari Universitas Pavia, jejak kaki itu terbentuk ketika pasir dan lumpur di tepian sungai dan danau mengering karena panas musim panas, lalu tertutup lapisan tanah liat baru yang melindunginya.
“Kondisi inilah yang memungkinkan jejak kaki itu bertahan selama ratusan juta tahun, bahkan dengan detail seperti bekas cakaran dan pola bagian bawah tubuh hewan,” ujarnya.
Hewan Sebesar Komodo dan Tanpa Dinosaurus
Peneliti memperkirakan jejak itu berasal dari sedikitnya lima spesies hewan berbeda, beberapa di antaranya memiliki ukuran sebanding dengan komodo modern, yakni sekitar 2 hingga 3 meter panjangnya.







