KALIMANTANLIVE.COM – Dunia maya dikejutkan oleh kabar tragis dari Kolombia. Seorang influencer muda, Maria Jose Estupinan (22), tewas setelah ditembak oleh pria yang menyamar sebagai kurir di kediamannya, Norte de Santander, pada 15 Mei 2025.
Maria, yang juga merupakan seorang mahasiswa di Cúcuta—kota di dekat perbatasan Venezuela—ditembak berkali-kali oleh pelaku yang pura-pura mengantar paket ke rumahnya. Aksi brutal tersebut terekam kamera CCTV, memperlihatkan korban sempat menjerit sebelum pelaku kabur.
# Baca Juga :Dokter Sunardi yang Ditembak Mati Densus 88 Ternyata Anggota IDI Sukoharjo yang Aktif
# Baca Juga :FAKTA Baru Kematian Brigadir J, Ada Bekas Luka di Leher, Keluarga Menduga Sebelum Ditembak Dijerat dari Belakang
# Baca Juga :Pelaku Penembakan Trump Alami Perundungan Tiap Hari di Sekolah, Namun Raih Penghargaan Matematika
# Baca Juga :Satgas Cartenz Tembak Mati 2 Anggota KKB, Kombes Faizal: Afrika Heluka DPO Kasus Pembunuhan Polisi
Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong akibat luka tembak yang parah.
“Kami sedang memverifikasi insiden ini. Polisi Yudisial telah memulai proses investigasi untuk mengidentifikasi dan menemukan pelaku,” ujar Kolonel Leonardo Capacho, Komandan Distrik Satu Kepolisian Metropolitan Cúcuta, seperti dikutip dari People, Selasa (20/5/2025).
Dugaan Femisida dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Pihak kepolisian menduga pelaku pembunuhan adalah mantan pasangan Estupinan, yang sebelumnya dilaporkan melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Dugaan ini diperkuat dengan fakta bahwa sehari sebelum kejadian, Estupinan memenangkan kasus KDRT di pengadilan, dan dijadwalkan menerima kompensasi sebesar 30 juta peso.
Kasus ini kini tengah diselidiki sebagai dugaan femisida—pembunuhan terhadap perempuan karena gendernya—yang menjadi sorotan tajam aktivis hak perempuan di Kolombia.
Negara Dinilai Gagal Lindungi Korban
Aktivis Alejandra Vera dari organisasi Mujer Denuncia y Muévete mengecam keras kegagalan pemerintah dalam memberikan perlindungan kepada Maria, meski korban sudah beberapa kali mengajukan keluhan dan permintaan perlindungan sebelumnya.
“Tragedi ini seharusnya bisa dicegah. Negara gagal hadir untuk melindungi Maria,” tegas Vera.










