Le Bokor Palace: Hotel Mewah Berusia Seabad dengan Sejarah Kelam di Puncak Gunung Bokor

KALIMANTANLIVE.COM – Di balik kemegahan Le Bokor Palace, sebuah hotel mewah yang berdiri di puncak Gunung Bokor, Provinsi Kampot, Kamboja, tersimpan kisah kelam yang mencerminkan gejolak sejarah negara tersebut.

Awal Mula: Tempat Peristirahatan Elit Prancis

Le Bokor Palace dibangun pada awal 1920-an sebagai bagian dari proyek stasiun bukit Bokor oleh pemerintah kolonial Prancis. François Marius Baudoin, Résident-supérieur di Kamboja, memprakarsai pembangunan resor kesehatan di Gunung Bokor pada tahun 1912. Terletak di ketinggian lebih dari 1.000 meter, lokasi ini dipilih untuk memberikan pelarian dari panasnya iklim tropis bagi para elit Prancis.

# Baca Juga :Resmi Meluncur! BYD e7, Sedan Listrik ‘Murah’ Harga Rp 200 Jutaan Siap Guncang Pasar

# Baca Juga :Air Mata Seorang Legenda! Son Heung-min Menangis Bahagia Usai Bawa Spurs Juara Liga Europa

# Baca Juga :Malapetaka Ganda! Kekalahan di Final Liga Europa Bikin Manchester United Rugi Ratusan Miliar dan Terancam Krisis Finansial

# Baca Juga :Geger Final Liga Europa! Tottenham Bungkam Man United 1-0, Spurs Cetak Sejarah Juara Eropa Lagi Setelah 41 Tahun

Pembangunan hotel dimulai pada 18 November 1919 oleh perusahaan Boy, Fermé & Cie. Awalnya direncanakan sebagai bungalow, proyek ini berubah menjadi istana mewah antara tahun 1920 hingga 1922, dengan biaya mencapai 311.872 dolar AS. Hotel ini diresmikan pada Hari Valentine, 14 Februari 1925, dengan arsitektur art deco yang dipengaruhi oleh modernisme, seluruh bangunan terbuat dari beton, dan dilengkapi dengan perapian besar, ruang makan luas, serta 18 kamar besar.

Tantangan Alam dan Penutupan Berulang

Meskipun megah, Le Bokor Palace menghadapi tantangan alam yang signifikan. Kabut tebal dan hujan lebat yang sering melanda area tersebut menyebabkan kerusakan pada bangunan, membatasi operasional hotel hanya selama musim kemarau, sekitar enam bulan dalam setahun. Akibatnya, hotel ini mengalami beberapa kali penutupan: ditinggalkan pada 1926, dibuka kembali pada akhir tahun itu, ditutup lagi pada 1928, dan dibuka kembali pada Februari 1929. Sejak 1930, operasional hotel dikendalikan secara ketat, hanya dibuka dari Februari hingga Juni setiap tahunnya.

Masa Perang dan Kerusakan

Pada 1940-an, hotel ini berganti nama menjadi “Hotel Mont Bokor” dan digunakan sebagai rumah sakit militer selama Perang Indochina Pertama pada 1946. Namun, pada 1950, stasiun bukit Bokor ditinggalkan karena sulit dipertahankan. Bangunan hotel dirusak oleh kelompok pemberontak Khmer Issarak, dan pada akhir 1960-an, bangunan tersebut terbakar, menyebabkan jendela dan pintunya menghitam.
Kebangkitan Kembali dan Penutupan Lagi

Raja Norodom Sihanouk meresmikan “Kota Bokor” baru pada Januari 1962, dengan hotel yang dikelola oleh “Khmer Royal Society Inns”, menawarkan 22 kamar dan empat apartemen dengan kenyamanan modern. Namun, setelah Sihanouk lengser pada 1970, stasiun tersebut kembali ditutup. Khmer Merah mengambil alih Gunung Bokor dua tahun kemudian, dan pada awal 1990-an, area tersebut masih menjadi salah satu benteng terakhir Khmer Merah.