Ilmuwan Jepang Bongkar Prediksi Tahun Kiamat: Bumi Habis Oksigen, Kehidupan Musnah!

KALIMANTANLIVE.COM – Kiamat memang menjadi rahasia Tuhan, namun para ilmuwan dari Jepang mencoba mengungkapnya lewat pendekatan ilmiah. Dalam sebuah studi kolaborasi antara Universitas Toho dan NASA, mereka memprediksi “tanggal akhir” kehidupan di Bumi lewat simulasi superkomputer.

Melansir dari sejumlah media seperti Tech.news.am, Colitco, dan Bizz Buzz, Senin (25/5/2025), tim peneliti melakukan lebih dari 400.000 simulasi. Hasilnya mengejutkan: kiamat versi ilmiah akan terjadi akibat meningkatnya radiasi dari Matahari, yang menyebabkan Bumi perlahan kehabisan oksigen.

# Baca Juga :PT Samator Indo Gas Tbk Buka Lowongan Kerja Mei 2025, Tersedia 5 Posisi di Berbagai Wilayah

# Baca Juga :Resmi Rilis di Indonesia! Ini Harga Samsung Galaxy S25 Edge dan Promo Preorder Senilai Rp 4,75 Juta

# Baca Juga :Wilmar Group Buka Rekrutmen Mei 2025: Simak Posisi, Syarat, dan Cara Daftar

# Baca Juga :Inilah 6 Wakil Premier League di Liga Champions 2025/2026, Tottenham Lolos Meski Nyaris Degradasi!

“Akhir kehidupan di Planet Bumi akan terjadi karena kekurangan oksigen,” demikian tertulis dalam laporan ilmiah mereka.

Simulasi menunjukkan bahwa seiring waktu, Matahari akan makin panas dan mengubah keseimbangan kimia atmosfer. Pemanasan ini menyebabkan peningkatan penguapan air, kekacauan pada siklus karbon, serta penurunan karbon dioksida. Akibatnya, tumbuhan mati dan proses fotosintesis pun berhenti—tak ada lagi oksigen yang bisa menopang kehidupan.

Atmosfer Bumi perlahan akan kembali ke kondisi primitif, dipenuhi gas metana dan tidak ramah bagi makhluk hidup. Inilah momen yang oleh para ilmuwan disebut sebagai “kiamat masa depan.”

Penelitian ini dipimpin oleh Profesor Kazumi Ozaki dan telah dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience. Mereka memperkirakan kehidupan di Bumi akan berakhir sekitar tahun 1.000.002.021, atau satu miliar tahun sejak 2021—masih sangat lama dari sekarang.

Meski terasa seperti fiksi ilmiah, para ilmuwan mengingatkan bahwa tanda-tanda pemanasan Matahari sudah terlihat. Salah satunya adalah badai Matahari terkuat dalam dua dekade terakhir.