Berdasarkan prediksi BMKG, periode Juli hingga September 2025 diperkirakan akan mengalami peningkatan risiko Karhutla yang signifikan. Wilayah Kalimantan, Nusa Tenggara, Papua, dan Bangka Belitung termasuk daerah dengan tingkat kerawanan tinggi.
“Karena itu, sinergi dan kolaborasi sangat penting untuk memantau kondisi iklim dan potensi Karhutla. Informasi yang akurat dan cepat kepada masyarakat dan pemangku kepentingan menjadi kunci mitigasi yang efektif,” tambah Kapolda.
Kapolda melalui amanatnya juga mengajak semua pihak agar memperkuat semangat kebersamaan dalam penanggulangan Karhutla, sebagaimana nilai dari moto Kalimantan Selatan, Kayuh Baimbai, yang berarti “bergerak bersama menuju kemajuan dan keberlanjutan pembangunan Banua.”
Menutup amanatnya, Kapolda juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak atas komitmen dan kerja sama dalam kesiapsiagaan menghadapi Karhutla. Ia optimistis bahwa dengan kerja kolektif dan berkesinambungan, dampak Karhutla dapat diminimalisir secara signifikan.







