MUARA TEWEH, KALIMANTANLIVE.COM – Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Barito Utara Provinsi Kalimantan Tengah melepas kepulangan rombongan ekspedisi ilmuwan nasional yang tergabung dalam lembaga Pemerintah nonkementrian, yaitu Badan Riset dan Inovasi Nasional disingkat BRIN.
BRIN beroperasi di bawah Presiden dan bertanggung jawab untuk melakukan penelitian, pengembangan dan inovasi di berbagai bidang, termasuk energi nuklir dan antariksa.
Para ilmuan BRIN yang terdiri dari Prof. Dr. Chaidir, Dr. Sabara, Setio Budi Oetomo, S.Pd, Joko Tri Haryanto, S.Ag M.S.I dan Mustholehudin, S.Ag, M.S.I dilepas keberangkatannya oleh DAD Barito Utara dari Maynd Caffe jalan Yetro Singseng Muara Teweh, Sore (28/5/2025).
Sementara Prof. Tiwi Etika dan Dr. Kuri dari Institut Agama Hindu yang membidangi filsafat telah lebih dulu berangkat sebelumnya.
BACA JUGA : Dewan Adat Dayak Barito Utara Persiapkan Panitia Jelang Raker Bulan Juni Mendatang, Rakor Mulai Hari Ini
Ekspedisi ilmuan dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan tersebut, sebelumnya dalam rangka Riset Kolaboratif Khasanah Pengobatan Tradisional Berbasis Kepercayaan Lokal pada Suku Dayak yang rencananya dilakukan selama tiga tahun dengan meneliti beberapa suku Dayak, dimulai dari Dayak di Barito Utara.
Prof. Dr. Chaidir saat berdialog dengan Kalimantan Live menyampaikan, objek penelitian ekspedisi mereka adalah pada sistim medis tradisional suatu etnis atau budaya yang disebutnya Etnomedicine.
“Penelitian medis tradisional di suku Dayak Ngaju dan Taboyan,” jelas Prof. Chaidir.
Salah satu Desa yang didatangi tim peneliti BRIN ini adalah Desa Panaen. Disana mereka mengkaji pengobatan yang dilakukan dengan cara upacara, baik pada sisi ritual magisnya dan tumbuhan obat yang digunakan oleh Balian (Rohaniawan).
“Saya mengumpulkan tanaman obatnya yang dipakai oleh para Balian,” jelas Professor dari salah satu universitas di Jerman ini.
Prof. Chaidir juga telah mengidentifikasi beberapa tumbuhan lokal yang dipakai dalam pengobatan dan manfaatnya. Data spesimen tumbuhan tersebut diawetkan untuk dijadikan sample atau herbarium yang nantinya diidentifikasi nama ilmiahnya.
“Beberapa tanaman ada yang khas Kalimantan,” jelas Prof. Chaidir.
Ilmuwan berikutnya yang diwawancarai Kalimantan Live adalah Dr. Sabara. Ilmuwan dengan rambut gondrong ini lebih memfokuskan riset penelitiannya pada agama dan kepercayaan lokal masyarakat adat Dayak dalam medis tradisionalnya.
“Dalam kepercayaan masyarakat Nusantara pada umumnya, sebuah penyakit yang diderita bukan semata karena faktor bersifat material saja. Ada pengaruh ruhaniah atau spiritual dibalik timbulnya sebuah penyakit,” terang Sabara.
Penyembuhannya pun, menurut Sabara, bukan saja dengan obat tradisional namun harus balance dengan upaya spritual yang diterapkan dengan upacara-upacara seperti ritual Balian yang berisikan doa dan mantra-mantra.







