Masih dalam pertemuan di Maynd Caffe Muara Teweh. Hison, Ketua II Dewan Adat Dayak Kabupaten Barito Utara yang juga Panglima ormas GPD Alur Barito, lebih menitik beratkan pandangannya pada hutan Kalimantan.
Hutan alam Kalimantan yang terus mengalami deforestasi (penggundulan) oleh perusahaan yang dimiliki oleh elit-elit di pusat, salah satu penyebab susahnya masyarakat adat dalam memanfaatkan tumbuhan di sekitar alamnya sekarang, kata Hison.
“Saat ini untuk mencari tanaman obat semakin jauh dan tak terjangkau,” ungkap Hison.
Sementara masyarakat Dayak tidak memahami regulasi apa yang harus dilakukan mereka untuk melindungi hutannya dari perambahan atau eksplorasi alam.
Adapun Damang Adat setempat, Aryosi Jiono Takanabe yang juga pengurus DAD Barito Utara mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada ilmuwan BRIN yang telah mengunjungi dan melakukan penelitian di Barito Utara.
“Saya berharap penelitian ilmiah ini nantinya mampu memperkenalkan Dayak Barito Utara ke publik nasional dengan pengobatan tradisionalnya, sehingga hasil penelitian nantinya bukan hanya sekedar dicatat dan menjadi koleksi katalog,” sebut dia.
Pada kesempatan tersebut Humas Dewan Adat Dayak Kabupaten Barito Utara, Mula Dewi Purwanty selain mengucapkan terima kasih kepada para ilmuwan BRIN, ia menyampaikan terima kasih pula kepada Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran yang telah mempersilahkan DAD Barut untuk memanfaatkan kantor UPTD Muara Teweh menjadi kantor DAD Barito Utara nantinya.
“Berkat beliau DAD dapat memanfaatkannya menjadi Kantor untuk lembaga Dewan Adat Dayak”, ucap Mula.
Keberadaan kantor tersebut nantinya akan memudahkan kerja Dewan Adat Dayak Barito Utara dalam pelayanan, seperti adanya tamu dari luar daerah, peneliti, kegiatan budaya dan sebaginya.
“Memang sudah selayaknya DAD yang merupakan lembaga paling otoritatif suku Dayak dan diakui oleh Pemerintah ini untuk difasilitasi keberadaan dan aktivitasnya,” tutup Mula Dewi.
Acara ditutup dengan penyerahan cenderamata berupa Mandau dan plakat khas Dayak Kalimantan Tengah sebagai kenang-kenangan kepada para ilmuwan BRIN tadi. Sedangkan makna filosofis pada mandau dan anyaman sarung mandaunya dijelaskan oleh pengurus DAD Barito Utara lainnya, Dayat, sebagai penutup acara pelepasan.
Kalimantan Live/M. Gazali Noor










