BANJAR, Kalimantanlive.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Selatan menilai sektor jasa keuangan di Provinsi Kalimantan Selatan tetap terjaga stabil, di tengah meningkatnya dinamika perekonomian global.
Perkembangan terkini didominasi oleh meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan global dengan rencana pengenaan tarif impor resiprokal oleh Amerika Serikat yang mendorong peningkatan tajam volatilitas pasar keuangan global.
Demikian disampaikan Kepala OJK Kalimantan Agus Maiyo, pada Media Update Perkembangan Sektor Jasa Keuangan Kalsel Tahun 2025 bersama Forum Wartawan Ekonomi (FWE) Kalsel, di Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, Selasa (27/5/2025).
BACA JUGA: OJK Panggil Rupiah Cepat Usai Adanya Pengaduan Masyarakat, Terima Dana Tanpa Ajukan Pinjaman
“Dalam dinamika tersebut, ekonomi Indonesia pada Triwulan I 2025 tetap tumbuh resilien sebesar 4,87 persen yoy. Provinsi di wilayah regional Kalimantan juga mencatatkan pertumbuhan positif yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara tumbuh masing-masing 4,81 persen, 4,04 persen, 5,00 persen, 4,08 persen dan 4,06 persen yoy,” katanya.
Agus menjelaskan, angka 4,87 persen memang masih rendah, tetapi mengingat dampak kebijakan Amerika Serikat sangat besar dan sangat signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, angka tersebut pihaknya anggap masih berada di level yang cukup terjaga.
“Seperti diketahui, BI berhasil mempertahankan nilai tukar. Indek Pasar Modal sempat jatuh, tapi saat ini sudah kembali stabil seperti sebelumnya atau kembali rebound, dan suku bunga yang sempat berfluktuatif saat sudah bisa dikendalikan,” ujarnya.
Perkembangan Industri Perbankan,
Terkait industri perbangkan, Agus menyampaikan, kinerja perbankan di Kalimantan stabil dengan profil risiko yang terjaga. Pada Maret 2025, kredit tumbuh 11,38 persen yoy menjadi Rp.314,42T (Februari 2025: 11,13 persen) dan kualitas kredit terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) gross tetap sebesar 2,21 persen (Februari 2025: 2,21 persen) serta NPL nett 0,98 persen (Februari 2025: 0,97 persen).
“Di tengah perkembangan dinamika perekonomian global yang sangat cepat, pertumbuhan kredit masih dalam rentang target yang ditetapkan yaitu pada kisaran 9 persen –11 persen,” jelasnya.







