WASHINGTON DC, KALIMANTANLIVE.COM – Dunia politik Amerika Serikat kembali diguncang! Elon Musk, miliarder sekaligus CEO Tesla dan SpaceX, resmi mundur dari pemerintahan Presiden Donald Trump secara mendadak. Pengumuman mengejutkan ini disampaikan langsung oleh Gedung Putih pada Rabu malam waktu setempat (28/5/2025).
Musk selama ini menjabat sebagai special government employee (pegawai pemerintah khusus) di Departemen Efisiensi Pemerintahan AS, yang dikenal dengan singkatan DOGE.
# Baca Juga :Rencana Penutupan Jalan di Ujung Runway Bandara H Asan Sampit Jadi Sorotan DPRD Kotim
# Baca Juga :Polres Balangan Raih Penghargaan IKPA Terbaik Nasional, Kapolres Apresiasi Kinerja Personel
# Baca Juga :Reses Anggota DPRD Kalteng ke Daerah, Warga Keluhkan Pembangunan Infrastruktur Belum Merata
# Baca Juga :Prajogo Pangestu Salip Low Tuck Kwong! Ini 8 Konglomerat Terkaya RI Versi Bloomberg
“Pemberhentiannya akan dimulai malam ini,” ujar seorang pejabat Gedung Putih kepada Reuters.
Pernyataan itu sekaligus mengonfirmasi keluarnya Musk dari lingkaran pemerintahan Trump, tanpa proses transisi yang biasanya dilakukan dalam pergantian pejabat penting.
Tanpa Pamitan, Tanpa Negosiasi
Kepergian Musk dilakukan tanpa pembicaraan resmi dengan Presiden Trump, menurut laporan dari beberapa sumber yang dikutip Reuters. Langkah tersebut dianggap mengejutkan dan di luar dugaan, bahkan bagi para staf senior Gedung Putih.
Hingga kini, alasan pasti pengunduran diri Musk belum dijelaskan secara resmi oleh pihak Gedung Putih. Namun, sinyal kuat datang dari kritik keras Musk terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) Anggaran yang baru saja diluncurkan pemerintahan Trump.
Kritik Pedas terhadap RUU “Besar dan Indah”
Sehari sebelum mengundurkan diri, Musk dalam wawancaranya dengan CBS News menyuarakan kekecewaannya terhadap RUU anggaran terbaru. Ia menyindir bahwa rancangan tersebut mungkin “besar” atau “indah”, tapi tidak bisa keduanya.
Sebagai informasi, RUU anggaran yang dimaksud mencakup pemotongan pajak dalam skala triliunan dolar serta lonjakan besar dalam belanja pertahanan. Namun, langkah ini juga memperlebar defisit anggaran negara secara signifikan.
“Saya rasa ini justru merusak kerja keras yang sudah kami bangun,” ujar Musk, seperti dikutip dari AFP.
Komentar Musk tersebut memicu kemarahan sejumlah pejabat senior, termasuk Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller. Menurut seorang sumber internal, Gedung Putih bahkan harus memanggil senator dari Partai Republik untuk menegaskan kembali dukungan mereka terhadap kebijakan anggaran Trump.







