WASHINGTON DC, KALIMANTANLIVE.COM – Elon Musk, miliarder pendiri Tesla dan SpaceX, secara mengejutkan mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan penasihat Presiden Donald Trump. Keputusan ini diambil hanya sehari setelah Musk secara terbuka mengkritik RUU ambisius andalan Trump yang dikenal sebagai One Big, Beautiful Bill Act.
Dalam pernyataan di platform X pada Kamis (29/5/2025), Musk menegaskan bahwa masa tugasnya sebagai karyawan pemerintah khusus telah berakhir dan ia berterima kasih kepada Presiden Trump atas kesempatan yang diberikan.
# Baca Juga :Penurunan Penjualan Tesla Terjadi di 2025, Elon Musk Terimbas Kontroversi Politik
# Baca Juga :AKHIR Tahun 2022, Ini Daftar 10 Orang Terkaya di Dunia Versi Forbes, Elon Musk Rp 3.430 Triliun
# Baca Juga :GEGER! Bola Api Besar Jatuh dari Langit Skotlandia, McLean Menduga Satelit Milik Elon Musk
# Baca Juga :Balas Komentar Trump yang Menyebutnya Seniman Pembohong, Elon Musk Ejek Donald Trump Terlalu Tua
“Sebagai karyawan pemerintah khusus yang masa tugasnya telah berakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden @realDonaldTrump atas kesempatan untuk membantu mengurangi pemborosan anggaran. Misi @DOGE akan terus menguat dan menjadi bagian dari budaya kerja di pemerintahan,” tulis Musk.
Seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Musk resmi meninggalkan posisinya.
Kritik Pedas Musk terhadap RUU Trump
Dalam wawancara eksklusif bersama CBS News yang tayang Selasa (27/5/2025), Musk mengungkapkan kekecewaannya terhadap RUU raksasa yang diajukan Trump. Menurutnya, RUU tersebut justru memperparah defisit anggaran alih-alih menekannya.
“Saya kecewa melihat RUU pengeluaran besar ini yang malah meningkatkan defisit anggaran, bukan menguranginya. Ini melemahkan kerja keras tim DOGE,” ujar Musk, merujuk pada lembaga efisiensi anggaran yang ia pimpin.
RUU ini, yang telah disahkan di DPR dan sedang dibahas di Senat, mencakup pemotongan pajak besar-besaran dan lonjakan belanja pemerintah. Namun, para ekonom dan pengkritik menilai bahwa RUU ini berpotensi menambah defisit nasional hingga 4 triliun dolar AS (Rp 65.210 triliun) dalam 10 tahun ke depan.
“RUU bisa saja besar, atau indah. Tapi saya ragu bisa keduanya sekaligus,” sindir Musk tajam.
Pemerintah Balas Kritik, Tapi Tak Bisa Bungkam Dampaknya
Wakil Kepala Staf Gedung Putih, Stephen Miller, segera merespons komentar Musk lewat platform X. Ia menekankan bahwa RUU yang dimaksud bukanlah anggaran tahunan, dan pemangkasan anggaran DOGE masih membutuhkan undang-undang terpisah.
Namun, komentar Musk telah mengguncang publik karena ia bukan hanya penasihat, tapi juga donatur besar kampanye pemilihan ulang Trump pada 2024, dengan kontribusi mencapai 250 juta dolar AS (sekitar Rp 4 triliun).
DOGE: Ambisi Besar, Hasil Terbatas
Sebagai Kepala DOGE (Department of Government Efficiency), Musk memimpin upaya ambisius memangkas anggaran dan merampingkan birokrasi federal. DOGE berhasil membubarkan sejumlah lembaga yang dianggap tidak efisien dan menghapus puluhan ribu posisi pegawai negeri.
Namun, target efisiensi sebesar 1 triliun dolar AS (Rp 16.302 triliun) belum tercapai. Dalam wawancara dengan The Washington Post, Musk mengaku terkejut dengan kompleksitas birokrasi Washington.
“Birokrasi pemerintah jauh lebih rumit dari yang saya bayangkan. Saya tahu ada masalah, tapi memperbaiki Washington DC benar-benar seperti mendaki gunung terjal,” kata Musk.
Meski begitu, Gedung Putih tetap berencana mengadopsi sebagian temuan DOGE. Proposal pemangkasan anggaran akan dikirim ke Kongres, termasuk:
Pemotongan 1,1 miliar dolar AS (Rp 17 triliun) dari lembaga penyiaran publik seperti NPR dan PBS.
Pemotongan 8,3 miliar dolar AS (Rp 135 triliun) dari bantuan luar negeri.







