5. Sukanto Tanoto – Raja Manufaktur Global
Asal: Medan, Sumatera Utara
Perusahaan: Royal Golden Eagle (RGE)
Kekayaan per 28 Mei 2025:
16,0 miliar dollar AS (sekitar Rp 260 triliun)
Sukanto terus memperluas bisnisnya di bidang manufaktur berbasis sumber daya alam, dengan jaringan perusahaan yang tersebar di Asia dan Eropa.
6. Anthoni Salim – Jenderal Grup Indofood
Asal: Kudus, Jawa Tengah
Perusahaan: Indofood & Salim Group
Kekayaan per 28 Mei 2025:
14,3 miliar dollar AS (sekitar Rp 233 triliun)
Meski turun tipis dari awal bulan, Anthoni tetap menjadi salah satu tokoh sentral di industri makanan dan agribisnis Indonesia.
7. Sri Prakash Lohia – Raja Tekstil dan Petrokimia
Asal: Kolkata, India
Perusahaan: Indorama Group
Kekayaan per 28 Mei 2025:
7,03 miliar dollar AS (sekitar Rp 114 triliun)
Dengan basis bisnis yang kuat di Asia dan Afrika, Lohia tetap menjaga posisinya di jajaran 10 besar konglomerat Indonesia.
8. Otto Toto Sugiri – Jenius di Balik Industri Data Center
Asal: Bandung, Jawa Barat
Perusahaan: PT DCI Indonesia Tbk
Kekayaan per 28 Mei 2025:
6,88 miliar dollar AS (sekitar Rp 112 triliun)
Pendiri DCI ini dikenal sebagai pelopor industri data center di Indonesia. Meskipun kekayaannya sedikit turun, ia tetap menjadi tokoh penting dalam transformasi digital nasional.
Kesimpulan: Kompetisi Ketat di Puncak Piramida Kekayaan
Perubahan posisi orang-orang terkaya ini mencerminkan dinamika ekonomi Indonesia yang makin kompetitif dan global. Naiknya Prajogo Pangestu ke puncak menjadi bukti bahwa sektor energi dan petrokimia masih sangat menjanjikan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
(kalimantanlive.com/Bloomberg/kompas/berbagai sumber)
editor : TRI







