Antara Ekspresi dan Etika: Refleksi Akademisi atas Kontroversi Kelulusan di Era Budaya Populer

Selama masih dalam batas etik dan norma, tidak ada yang salah dari event bernuansa DJ. Yang keliru itu persepsi yang menyempitkan seni ini dalam ruang negatif. Kesan DJ erat dengan dunia hiburan malam tidak bisa dipungkiri, namun yang terjadi di SMKN 1 Tapin Selatan persoalannya hanya lah menghadirkan DJ. Jadi kita harus bijak menilai, DJ hanya terkait dengan musik, sedangkan THM yang memiliki konotasi negatif karena di dalamnya bisa bersarang penyakit masyarakat. Jadi kasus tersebut merupakan dua hal yang berbeda. Maka penting bagi kita untuk tidak terjebak pada tafsir tunggal yang sempit, melainkan melihat dari sudut keberagaman budaya yang dinamis.

Menyikapi Perbedaan dengan KearifanPeristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua—pendidik, orang tua, dan masyarakat—untuk bersama-sama membimbing dan memfasilitasi generasi muda dalam mengekspresikan diri secara positif. Kritik yang membangun dan dialog terbuka jauh lebih bermanfaat dibandingkan penghakiman sepihak di ruang digital. Mari ciptakan lingkungan sosial yang mendukung pendidikan karakter, bukan hanya dengan larangan, tetapi juga dengan pendekatan yang empatik dan solutif.

Apa yang terjadi di SMKN 1 Tapin Selatan menjadi contoh nyata bagaimana ruang ekspresi generasi muda bisa dipahami dalam berbagai dimensi. Ini bukan hanya soal perayaan kelulusan, tapi juga tentang bagaimana kita menyikapi perubahan budaya, merawat komunikasi antar generasi, dan membangun ekosistem sosial yang mendidik, memanusiakan, dan merangkul keberagaman.

Mari kita rangkul perbedaan ini sebagai peluang untuk saling belajar, bukan saling menyalahkan. (Red)