JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM — Industri perhotelan di Jakarta sedang berada di ujung tanduk. Tingkat hunian yang terus menurun dan beban operasional yang kian membengkak membuat sejumlah pemilik hotel terpaksa menjual properti mereka—bahkan dengan harga miring, jauh di bawah Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).
Pantauan tim detikProperti pada beberapa situs jual beli properti mengungkapkan bahwa sejumlah hotel di ibu kota dipasarkan secara terbuka dengan label “jual cepat” dan harga sangat terjangkau.
# Baca Juga :Kediaman Tokoh Dayak Barito Utara Suria Baya Dikunjungi Semua Bakal Calon, Hingga Kini Netral
# Baca Juga :Geger! AS Tangguhkan Visa, Kemdiktisaintek Siapkan Evakuasi Mahasiswa Indonesia ke Negara Lain
# Baca Juga :Akhirnya Pemerintahan Presiden Donald Trump Mengumumkan Keluarnya Elon Musk dari Gedung Putih
# Baca Juga :Rencana Penutupan Jalan di Ujung Runway Bandara H Asan Sampit Jadi Sorotan DPRD Kotim
Salah satu contoh adalah hotel 9 lantai di kawasan Gajah Mada, Jakarta Pusat. Bangunan seluas 3.500 meter persegi di atas lahan 866 meter persegi ini terdiri dari 84 kamar. Hotel tersebut dibanderol seharga Rp92 miliar dan masih bisa dinegosiasikan. Padahal, harga awal yang ditawarkan mencapai Rp103 miliar sebelum dua kali mengalami penurunan.
Tak jauh dari lokasi tersebut, sebuah hotel lain di kawasan Senen juga ditawarkan dengan harga miring. Dengan 63 kamar, luas bangunan 3.000 meter persegi, dan tanah 560 meter persegi, properti ini dilepas seharga Rp47,5 miliar.
Masih di Senen, sebuah hotel bintang 3 terdiri dari 88 kamar dan 7 lantai turut dijual cepat. Hotel dengan luas bangunan 4.632 meter persegi dan luas tanah 1.867 meter persegi itu dipasarkan hanya Rp40 miliar—jauh di bawah NJOP.
Kondisi serupa terjadi di Pademangan, Jakarta Utara. Hotel bintang 2 dengan 110 kamar dan luas bangunan 6.036 meter persegi dijual Rp50 miliar, padahal NJOP-nya mencapai Rp170 miliar. Tanah hotel itu sendiri seluas 5.775 meter persegi.
Sementara itu, sebuah hotel di kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat juga turut masuk dalam daftar obral properti. Hotel dengan 100 kamar, 9 lantai, dan 1 basement tersebut memiliki luas bangunan fantastis yakni 27.000 meter persegi dan tanah 3.000 meter persegi. Harga jualnya dipatok Rp130 miliar nett.
Fenomena ini mendapat sorotan dari Ketua Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPD PHRI) DKI Jakarta, Sutrisno Iwantono. Ia mengakui banyaknya hotel yang dijual saat ini mencerminkan kondisi industri perhotelan yang sedang krisis.
“Kalau yang melapor ke PHRI belum ada, tapi dari data situs jual beli properti, jumlah hotel yang dijual sudah sangat banyak. Itu artinya mereka kesulitan mengelola,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Senin (26/5/2025).







