KALIMANTANLIVE.COM – Polemik tambang nikel di Pulau Gag dan wilayah Raja Ampat, Papua Barat Daya, semakin panas. Media sosial kembali diguncang oleh isu yang mengaitkan dua kapal dengan nama yang mengundang perhatian: TB JKW Mahakam dan Kapal Dewi Iriana. Banyak yang berspekulasi, apakah kedua nama kapal ini terkait dengan Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana?
Namun, setelah ditelusuri lebih dalam, jejak kapal-kapal ini justru mengarah ke jaringan pelayaran swasta besar yang aktif di industri tambang—dan bukan milik keluarga Jokowi.
# Baca Juga :Donald Trump vs Elon Musk: Tudingan Narkoba, Ancaman Politik, dan Perseteruan yang Makin Mendidih
# Baca Juga :Wakil Rektor Universitas Dharma Agung Jadi Tersangka Pengeroyokan: Dugaan Kriminalisasi hingga Kisruh Dualisme Kampus
# Baca Juga :Cristiano Ronaldo Akhiri Rumor: “Saya Tetap di Al Nassr!”
# Baca Juga :HEBOH Kapal Bernama JKW dan Iriana di Raja Ampat, Ada Apa di Balik Tambang Nikel?
JKW dan Dewi Iriana, Nama Kapal yang Picu Spekulasi Politik
Narasi viral menyebut kapal JKW Mahakam dan Dewi Iriana digunakan untuk mengangkut nikel dari wilayah Indonesia Timur. Nama-nama tersebut jelas mengundang kontroversi karena identik dengan Joko Widodo (JKW) dan sang istri Iriana.
Namun, berdasarkan data resmi dari Direktorat Perkapalan dan Kepelautan (Ditkapel) Kemenhub, keberadaan kapal-kapal ini memang nyata, tapi tidak ada hubungannya dengan Presiden RI ke-7.
Bukan Milik Jokowi: Inilah Perusahaan di Balik Kapal-Kapal Tersebut
Empat unit kapal JKW Mahakam diketahui dimiliki oleh PT Pelita Samudera Sreeya (PSS), anak usaha dari PT IMC Pelita Logistik Tbk (PSSI).
Tiga perusahaan lainnya juga memiliki kapal dengan nama serupa, yakni PT Permata Lintas Abadi (PLA), PT Sinar Pasifik Lestari (SPL), dan PT Glory Ocean Lines (GOL).
Sementara itu, kapal Dewi Iriana tercatat sebagai kapal tongkang yang biasa ditarik oleh tug boat dan memang tidak memiliki sistem pelacakan otomatis.
Melacak Pergerakan Kapal: Fokus di Batu Bara, Bukan Nikel
Data dari situs pelacakan kapal populer VesselFinder menunjukkan rute kapal-kapal JKW Mahakam:
JKW Mahakam 5 terakhir terlihat di Pelabuhan Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
JKW Mahakam 7 terpantau di Pelabuhan Panjang, Lampung.
JKW Mahakam 3 lego jangkar di Pelabuhan Bunati, Tanah Bumbu.
JKW Mahakam 1 dan JKW Mahakam 2 berada di Palembang dan Banjarmasin.
JKW Mahakam 7 sempat terlacak di Kendari, Sulawesi Tenggara—wilayah yang memang dikenal sebagai pusat smelter dan produksi nikel.
Namun perlu dicatat, mayoritas pergerakan kapal-kapal ini berada di pelabuhan batu bara, bukan di wilayah nikel seperti Papua atau Maluku Utara.
Kapal Dewi Iriana Tak Bisa Dilacak, Tapi Bukan Hal Aneh
Berbeda dengan kapal JKW Mahakam, kapal Dewi Iriana adalah jenis tongkang yang tidak dilengkapi AIS (Automatic Identification System), sehingga tidak muncul dalam peta pelacakan digital.
Pergerakan kapal ini sepenuhnya mengikuti tug boat penariknya, yang kemungkinan merupakan salah satu dari armada milik perusahaan-perusahaan pelayaran tersebut.
Jejak Tambang: Siapa Pemakai Jasa Kapal-Kapal Ini?
Mengutip situs resmi PT Pelita Samudera Sreeya (PSS), klien utama mereka justru berasal dari sektor pertambangan batu bara, termasuk:
Adaro Energy
Hasnur Group
Indo Tambangraya Megah
Bayan Resources
Nama-nama ini dikenal sebagai raksasa batu bara nasional dan tidak terafiliasi langsung dengan bisnis nikel atau operasi di Papua Barat Daya.
Kesimpulan: Nama Mirip Bukan Berarti Milik Jokowi
Isu kapal JKW Mahakam dan Dewi Iriana memang sempat memicu spekulasi liar. Namun, data dan fakta resmi menunjukkan bahwa kedua nama tersebut hanyalah kebetulan semata, tanpa keterkaitan apa pun dengan Presiden Joko Widodo atau keluarganya.
Dengan mayoritas aktivitas kapal-kapal ini berpusat di pelabuhan batu bara, bukan lokasi pengiriman nikel, narasi yang berkembang di media sosial sejauh ini belum didukung bukti kuat.
(kalimantanlive.com/berbagai sumber)
editor : TRI







