Meledak! Demo Anti-Imigran di Irlandia Utara Ricuh, Rumah Dibakar dan Polisi Terluka

BALLYMENA, KALIMANTANLIVE.COM – Gelombang amarah warga meledak di Irlandia Utara. Aksi demo anti-imigran yang mengguncang Kota Ballymena selama tiga malam berturut-turut berubah menjadi kerusuhan besar, memicu kebakaran, kekerasan, dan kekacauan yang mengguncang negeri.

Pada Rabu malam (11/6/2025), ratusan demonstran kembali memenuhi jalanan Ballymena. Mereka berhadapan langsung dengan polisi yang bersenjata lengkap—menggunakan tameng antihuru-hara, meriam air, dan anjing pelacak untuk membendung massa.

# Baca Juga :Harga Emas Antam dari 0,5 Gram hingga 1 Kg Melonjak Tajam! Naik Rp 18.000 per Gram, Ini Daftar Lengkapnya

# Baca Juga :Indonesia Beli 48 Jet Tempur Kaan Rp 162 Triliun, Pecahkan Rekor Ekspor Militer Turki!

# Baca Juga :Resmi Dimulai! Arab Saudi Umumkan Musim Umrah 1447 H dan Buka Visa Jemaah Asing

# Baca Juga :Kalahkan Segala Merek! Galaxy A16 5G Jadi HP Android Paling Laris di Dunia

Meski malam terakhir berlangsung relatif tenang tanpa insiden besar, dua malam sebelumnya meninggalkan jejak kehancuran. Puluhan rumah dan toko dilaporkan terbakar, sementara sedikitnya 32 petugas polisi terluka akibat lemparan batu, bom molotov, hingga serangan langsung dari massa.

Pusat Penampungan Dibakar

Di Kota Larne, sekitar 32 kilometer dari Ballymena, sebuah pusat rekreasi yang digunakan untuk menampung warga terdampak evakuasi dibakar sekelompok pria bertopeng. Fasilitas itu sebelumnya menjadi tempat perlindungan bagi penduduk yang melarikan diri dari kerusuhan.

Ketegangan makin meningkat dengan pernyataan warga lokal yang mengungkapkan kemarahan mereka terhadap para imigran. “Kami mengirimkan pesan bahwa Ballymena sudah muak dengan orang asing. Kota ini hancur,” ujar Allison McCurdy (52), warga setempat yang marah.

Sebagian warga mengaku harus menempelkan tanda bertuliskan “Saya dari Filipina” di rumah mereka atau menggantung bendera Inggris agar tak menjadi sasaran.

Namun, tak semua menganggap aksi ini sebagai kekerasan semata. Lee Stewart (18), seorang mahasiswa, menyebut demonstrasi ini sebagai “pembelaan terhadap rakyat sendiri”. Ia mengkritik polisi yang dinilainya tidak sigap menangani kejahatan terhadap “gadis-gadis kecil”.

Isu Pemerkosaan dan Latar Belakang Etnis

Kerusuhan ini dipicu oleh penangkapan dua remaja pria yang diduga mencoba memperkosa seorang gadis muda. Saat hadir di pengadilan pada Senin (9/6/2025), keduanya meminta penerjemah bahasa Romania—yang memicu spekulasi dan kemarahan warga terhadap komunitas migran, meskipun Kepolisian Irlandia Utara (PSNI) belum mengonfirmasi kewarganegaraan mereka.

Dalam hitungan jam, kawasan permukiman migran asal Romania langsung menjadi sasaran serangan massa.