Seluruh menteri dalam eksekutif Irlandia Utara mengeluarkan pernyataan bersama, mengecam aksi kekerasan bermotif rasial. “Warga telah diteror dan petugas kami terluka,” bunyi pernyataan yang dikutip dari AFP.
Kepolisian mengerahkan pasukan tambahan dari Inggris dan Wales, sementara Asisten Kepala Polisi Ryan Henderson menyebut aksi ini sebagai “premanisme rasis”. Ia menegaskan bahwa kekerasan tersebut secara jelas menyasar komunitas etnis minoritas dan aparat penegak hukum.
Hingga kini, enam orang telah ditangkap dalam insiden kerusuhan pada Selasa malam.
“Ini Bukan Nilai Britania”
Mantan Menteri Urusan Irlandia Utara, Lord Caine, turut angkat bicara. Ia mengecam tindakan kekerasan terhadap para migran, menyebutnya bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan Inggris.
“Tidak ada satu pun yang mencerminkan nilai-nilai Britania Raya dari membungkus diri dengan bendera Union, lalu menyerang migran dan menjadikan mereka kambing hitam,” tegas Lord Caine.
Situasi di Irlandia Utara masih jauh dari stabil. Masyarakat sipil dan kelompok hak asasi mendesak pemerintah bertindak tegas untuk meredam kekerasan dan menindak pelaku penyebar kebencian rasial.
Sementara itu, dunia internasional mengamati perkembangan ini dengan cemas—menyoroti bagaimana isu imigrasi, rasisme, dan keadilan sosial kembali menjadi bara api di tengah masyarakat modern Eropa.
(kalimantanlive.com/sumber lainnya)
editor : TRI









