Misteri Jatuhnya Air India Boeing 787: Pakar Curigai Serangan Burung hingga Gagal Mesin

KALIMANTANLIVE.COM – Tragedi jatuhnya pesawat Air India Boeing 787-Dreamliner di Ahmedabad, India, terus menyita perhatian dunia. Sejumlah pakar penerbangan mulai mengungkap berbagai kemungkinan penyebab kecelakaan fatal yang terjadi hanya beberapa detik setelah lepas landas dari Bandara Internasional Sardar Vallabhbhai Patel pada Kamis (12/6/2025) pukul 13.38 waktu setempat.

Pesawat yang berusia 12 tahun itu diketahui hanya berhasil mencapai ketinggian 625 kaki (190 meter) sebelum jatuh dan terbakar hebat. Panggilan darurat (Mayday) sempat dikirimkan ke menara pengawas, namun tak lama setelah itu pesawat kehilangan kendali dan jatuh di luar area bandara.

# Baca Juga :BERI KOMPENSASI! Pesawat Air India Jatuh, Tata Group Gelontorkan Rp 1,9 Miliar Tiap Keluarga Korban Tewas

# Baca Juga :UPDATE Pesawat Air India Jatuh! Misteri Kursi 11A: Selamatnya Ramesh dari Maut di Tengah Ledakan

# Baca Juga :Pesawat Air India Jatuh! Jenazah Korban Gosong dan Masih Terikat Sabuk, Identitas Sulit Dikenali

# Baca Juga :Remaja yang Hilang di Pantai Ujung Batu Ditemukan Meninggal di Perairan Pulau Bonta

Pakar AS: Ada Indikasi Kegagalan Mesin atau Daya Angkat

Letnan Kolonel John R Davidson, mantan pilot Angkatan Udara AS dan konsultan keselamatan penerbangan komersial, menyebutkan bahwa data awal menunjukkan pesawat mencapai kecepatan lepas landas, namun gagal mencapai ketinggian yang memadai.

“Ini mengindikasikan rotasi sangat lambat atau bahkan kehilangan daya sesaat setelah lepas landas,” ujar Davidson, dikutip dari Daily Mail, Jumat (13/6/2025).

Menurutnya, sejumlah faktor bisa menjadi penyebab:

Kegagalan daya dorong atau performa mesin

Beban pesawat yang berlebih

Kesalahan konfigurasi trim atau flap

Masalah mekanis yang lebih serius

Davidson menambahkan, kondisi cuaca atau tabrakan burung juga bisa berperan.
Tabrakan Burung Diduga Jadi Pemicu Utama

Kecurigaan semakin menguat setelah Kapten Saurabh Bhatnagar, mantan pilot senior, mengungkapkan bahwa rekaman insiden memperlihatkan penurunan mendadak seperti akibat tabrakan burung (bird strike) yang menghantam kedua mesin secara bersamaan.

“Lepas landas terlihat normal, tetapi pesawat mulai turun sebelum roda pendaratan ditarik—ini hanya bisa terjadi jika kehilangan daya dorong atau tidak menghasilkan daya angkat,” jelasnya kepada NDTV.

Data Pelacakan Ungkap Pesawat Tak Pernah Benar-Benar Terbang

Data awal dari Flightradar24 mengungkap bahwa pesawat tetap berada dekat permukaan tanah atau hanya meluncur perlahan selama lebih dari empat menit. Dalam forum penerbangan, pilot profesional menduga Turbin Udara Ram (RAT)—yakni turbin darurat—mungkin telah diaktifkan, menandakan kehilangan total daya listrik utama.

Davidson menegaskan bahwa data penerbangan menunjukkan pesawat tidak pernah benar-benar mengudara secara normal, memperkuat dugaan adanya kegagalan besar sesaat setelah rotasi.

“Apa pun yang terjadi, itu sangat cepat dan tepat di fase penerbangan yang paling kritis,” tegasnya.