Kekhawatiran Publik: Perlu CERN untuk AI?
Langkah ambisius Meta memicu keprihatinan dari sejumlah akademisi dan pengamat teknologi. Mereka khawatir bahwa dominasi pengembangan AI oleh segelintir raksasa teknologi dapat mengancam transparansi, keadilan, dan kepercayaan publik.
“Sudah saatnya dunia memiliki CERN untuk AI—lembaga riset terbuka yang memungkinkan pengembangan AI dilakukan secara kolaboratif dan transparan,” ujar Michael Wooldridge, profesor AI dari Universitas Oxford.
Dr. Andrew Rogoyski dari Institute for People-Centred AI di University of Surrey menambahkan bahwa tren ini menunjukkan perburuan besar-besaran terhadap talenta AI oleh korporasi raksasa, dengan cara mengakuisisi startup atau merekrut langsung dari universitas.
Dari Metaverse ke AI: Upaya Bangkit Setelah Gagal?
Setelah melakukan rebranding dari Facebook Inc. menjadi Meta Platforms Inc., perusahaan ini sempat gencar mengembangkan metaverse, dunia virtual berbasis teknologi VR (Virtual Reality) dan AR (Augmented Reality). Namun, proyek ini gagal mendapatkan sambutan luas dari publik, bahkan sempat menjadi bahan olokan karena minimnya pengguna aktif.
Kini, Meta tampaknya bersiap meninggalkan bayang-bayang kegagalan itu dan mencoba mencetak sejarah baru di era kecerdasan buatan. Jika akuisisi Scale AI benar-benar terwujud, maka ini akan menjadi salah satu investasi AI terbesar sepanjang sejarah, sekaligus membuka babak baru dalam pertarungan global menuju masa depan AI yang otonom dan supercerdas.
(kalimantanlive.com/sumber lainnya)
editor : TRI







