Ambisi Gila Bangkit dari Kegagalan Metaverse! Meta Gelontorkan Rp244 Triliun demi “Superintelligence” AI

KALIMANTANLIVE.COM – Meta, perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp, kembali membuat gebrakan besar di dunia teknologi. Raksasa digital asal Amerika Serikat ini dikabarkan siap menggelontorkan dana fantastis senilai 15 miliar dollar AS atau sekitar Rp244 triliun untuk membangun teknologi kecerdasan buatan (AI) tingkat lanjut yang disebut Superintelligence AI.

Langkah ini disebut sebagai upaya besar Meta untuk bangkit setelah proyek metaverse mereka dinilai gagal menarik minat pasar. Kini, perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg itu tampaknya mengalihkan fokus ke AI sebagai medan pertarungan baru di era digital.

# Baca Juga :Rusia Bakal Blokir WhatsApp dan Telegram! Siapkan “Vlad’s App” Sebagai Aplikasi Pengganti Resmi

# Baca Juga :WhatsApp Hadirkan Fitur Username, Pengguna Tak Perlu Lagi Bagikan Nomor Telepon

# Baca Juga :WhatsApp Hadirkan Fitur Baru! Kini Nomor HP Tersembunyi, Bahkan Bisa Pakai Username Unik untuk Chatting

# Baca Juga :WhatsApp Tembus 3 Miliar Pengguna, Jadi Pilar Utama Strategi AI Meta

Apa Itu Superintelligence AI?

Berbeda dengan AI yang ada saat ini—seperti Siri, ChatGPT, atau Google Assistant—yang masih tergolong narrow AI karena hanya mampu mengerjakan tugas-tugas spesifik, Superintelligence AI diimpikan sebagai kecerdasan buatan yang jauh lebih pintar dari manusia dalam segala aspek.

Teknologi ini diklaim dapat berpikir, mengambil keputusan, memecahkan masalah kompleks, hingga menciptakan solusi baru secara mandiri. Namun, banyak pakar meyakini bahwa teknologi selevel ini masih jauh dari jangkauan dan belum dapat diwujudkan dengan teknologi saat ini.

Meta Akuisisi Scale AI: Bahan Bakar Menuju Otak Digital?

Untuk merealisasikan ambisinya, Meta akan mengakuisisi 49 persen saham Scale AI, startup AI yang didirikan oleh Alexandr Wang dan Lucy Guo. Tidak seperti OpenAI atau Anthropic yang berfokus pada pengembangan model, Scale AI menyediakan data berkualitas tinggi, yang disebut-sebut sebagai “bahan bakar utama” dalam pengembangan AI.

Scale AI dikenal unggul dalam pelabelan data skala besar—termasuk teks, gambar, video, sensor lidar, dan 3D—serta memiliki sistem evaluasi model bernama SEAL (Safety, Evaluation, and Alignment Lab). Klien mereka antara lain adalah Google, Microsoft, dan bahkan OpenAI.

Pada Maret 2025 lalu, Scale AI menandatangani kontrak strategis dengan Departemen Pertahanan AS untuk menciptakan sistem militer berbasis AI bernama ThunderForge, yang akan digunakan untuk perencanaan dan operasi militer di kawasan Indo-Pasifik dan Eropa.

Talenta Muda Jadi Senjata: Alexandr Wang Gabung Meta

Selain akuisisi saham, Alexandr Wang dikabarkan juga akan bergabung ke dalam tim Meta di posisi senior. Wang, yang disebut-sebut sebagai miliarder termuda versi Forbes pada usia 24 tahun, membawa serta reputasi dan pengaruh kuat dalam dunia AI.

Kehadiran Wang mengindikasikan bahwa langkah Meta bukan sekadar investasi pasif, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk membentuk ulang arah pengembangan AI perusahaan.

Dari DeepMind ke Gemini, Kini ke Superintelligence

Meta sendiri sudah lama berinvestasi dalam dunia AI. Pada 2013, Zuckerberg mendirikan laboratorium AI internal pertama Meta, setelah kalah dalam persaingan mengakuisisi DeepMind—startup AI yang kini menjadi inti dari Gemini, teknologi AI canggih milik Google.

Pada awal 2025, Meta bahkan telah menyiapkan dana infrastruktur AI sebesar 65 miliar dollar AS (sekitar Rp1.050 triliun), menjadikan tahun ini sebagai tahun krusial dalam perlombaan kecerdasan buatan.

News Feed