Indonesia Masih Juara 3 Dunia Jumlah Perokok! Unpad: Sudah Saatnya Berhenti Andalkan Cara Lama

KALIMANTANLIVE.COM – Miris! Indonesia kembali mencatatkan diri sebagai negara dengan jumlah perokok terbanyak ketiga di dunia. Fakta ini mencuat dalam Asia-Pacific Conference on Harm Reduction 2025 yang diselenggarakan oleh Universitas Padjadjaran (Unpad), Senin (16/6/2025).

Fenomena ini membuat para akademisi dan pakar kesehatan angkat bicara dan menyerukan perubahan pendekatan dalam mengendalikan konsumsi tembakau yang selama ini belum efektif.

# Baca Juga :Rahasia Performa HP Tetap Ngebut: Ini Alasan Android dan iPhone Wajib Rutin Direstart!

# Baca Juga :Mengerikan! Lebih dari 23 Ribu Warga Indonesia Terjangkit Sifilis, Kenali Gejalanya Sebelum Terlambat

# Baca Juga :Geger! 17 ASN di Palangka Raya Terindikasi Narkoba, Pemkot Siapkan Sanksi Tegas

# Baca Juga :Tanda Bahaya! Calon Lawan Indonesia, Arab Saudi Bungkam Haiti di Piala Emas 2025

Jumlah Perokok Tinggi, Solusi Konvensional Tak Lagi Cukup

Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Unpad, Prof Amaliya, menyampaikan keprihatinan atas fakta bahwa Indonesia masih berada di peringkat ketiga tertinggi dunia dalam hal jumlah perokok.

“Kita tidak bisa lagi mengandalkan metode konvensional untuk mengatasi masalah ini,” tegasnya.

Ia menyebutkan, pendekatan baru berbasis bukti dan inovasi harus segera diimplementasikan, agar upaya pengendalian konsumsi rokok tidak lagi stagnan dan gagal menjangkau kelompok rentan, termasuk generasi muda.

Berhenti Merokok vs Harm Reduction: Bukan Dua Kutub Berlawanan

Dalam forum yang sama, Prof Riccardo Polosa, pakar kesehatan dari Universitas Catania, Italia, menekankan bahwa strategi berhenti merokok dan harm reduction (pengurangan risiko) harus dipadukan, bukan dipertentangkan.

“Ini bukan soal memilih salah satu. Keduanya adalah satu kesatuan yang saling melengkapi,” ujarnya dengan tegas.

Menurutnya, terlalu banyak energi yang terbuang karena memperdebatkan pendekatan mana yang paling efektif, padahal keduanya bisa bekerja berdampingan dalam menurunkan angka kematian akibat tembakau.

Unpad: Kolaborasi Lintas Negara dan Sektor adalah Kunci

Sementara itu, Wakil Rektor Riset, Kerja Sama, dan Pemasaran Unpad, Prof Rizki Abdulah, menyoroti pentingnya kerja sama antarnegara dan sinergi antara akademisi, peneliti, serta pembuat kebijakan dalam menyusun langkah nyata untuk mengendalikan konsumsi rokok.

“Indonesia sedang berada di titik kritis. Kita perlu kebijakan berbasis bukti yang kuat agar dampaknya benar-benar terasa di masyarakat,” ujarnya.

Prof Rizki menegaskan, konferensi internasional ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat jejaring riset lintas batas dan menyamakan persepsi mengenai pentingnya tindakan cepat dan terarah dalam menangani epidemi rokok.