TEHERAN, KALIMANTANLIVE.COM – Dunia kembali dikejutkan saat Iran meluncurkan rudal hipersonik Fattah ke wilayah Israel dalam serangan dini hari, Rabu (18/6/2025). Rudal generasi baru ini sukses menembus sistem pertahanan berlapis Israel dalam fase kesebelas Operasi True Promise III.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa serangan ini menjadi “titik balik strategis” yang menunjukkan dominasi penuh Iran atas wilayah udara yang selama ini dijaga ketat oleh pertahanan canggih Tel Aviv.
# Baca Juga :Pemkab Kotabaru Matangkan Persiapan Penjemputan Jemaah Haji 2025
# Baca Juga :Akhir Drama Sengketa 4 Pulau Aceh Vs Sumut! Dimulai Tito, Ditegaskan Prabowo
# Baca Juga :3 Mobil Honda Paling Laris di Indonesia Mei 2025, Brio Masih Rajanya!
# Baca Juga :Daftar Komandan dan Ilmuwan Nuklir Iran yang Tewas Dibombardir Israel: Petaka Berdarah sejak 13 Juni!
“Rudal Fattah telah mengguncang tempat perlindungan orang Israel malam ini,” ungkap IRGC dalam pernyataan resminya yang dikutip Press TV.
Rudal Hipersonik Fattah: Mimpi Buruk bagi Sistem Pertahanan
Fattah adalah rudal berbahan bakar padat dua tahap dengan jangkauan hingga 1.400 km dan kecepatan terminal mencapai Mach 13–15. Dirancang untuk bermanuver bebas di dalam dan luar atmosfer, rudal ini praktis kebal terhadap sistem intersepsi rudal manapun.
Peluncuran rudal Fattah ini bukan hanya unjuk kekuatan, tapi juga sinyal bahwa Iran kini berada di jajaran elite negara dengan teknologi rudal hipersonik, bersama Rusia, China, dan India.
“Ini bukan serangan biasa. Ini adalah pesan bahwa tidak ada tempat yang aman bagi musuh kami di wilayah yang diduduki,” tegas juru bicara IRGC.
Dunia Internasional Terkejut, Israel Bungkam
Meskipun sensor media ketat diberlakukan oleh Israel, berbagai video amatir yang viral di media sosial menunjukkan langit Tel Aviv dan Haifa terang benderang akibat ledakan dari rudal yang berhasil menembus tiga lapis pertahanan udara Israel, termasuk sistem Iron Dome dan David’s Sling.
Pakar pertahanan menyebut serangan ini sebagai eskalasi paling signifikan dalam konflik regional tahun ini, karena Israel sebelumnya sangat percaya diri dengan lapisan pertahanan mereka.







