Perang Iran vs Israel Terancam Picu Kenaikan Biaya Logistik Global! Selat Hormuz Jadi Titik Krisis Energi Dunia

KALIMANTANLIVE.COM – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat konflik antara Iran dan Israel tak hanya mengguncang stabilitas kawasan, tapi juga menimbulkan ancaman serius terhadap biaya logistik global, termasuk bagi Indonesia. Salah satu kekhawatiran terbesar datang dari potensi blokade Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dan gas dunia.

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Institute, Yukki Nugrahawan Hanafi, menyampaikan bahwa para pelaku logistik nasional dan internasional kini tengah melakukan kalkulasi risiko terhadap kemungkinan skenario terburuk, yaitu blokade atau gangguan di Selat Hormuz.

# Baca Juga :FIFA Luncurkan Merek Fashion Mewah “FIFA 1904”, Gaet Eks Desainer Rihanna! Sepak Bola Kini Masuk Catwalk!

# Baca Juga :Resmi Dibuka 29 Juni! Ini Daftar Sekolah Kedinasan 2025 Tanpa Syarat Nilai UTBK, PKN STAN Termasuk!

# Baca Juga :Piala Dunia Antarklub 2025 Kacau Balau! Rumput Kering, Panas Ekstrem, Tiket Sepi, dan Skor Jomplang Jadi Sorotan

# Baca Juga :Putin Janji Banjiri RI dengan Minyak! Rusia Siap Bantu Prabowo Genjot Produksi Migas Nasional

“Saat ini para pelaku usaha logistik rantai pasok internasional dan nasional telah melakukan kalkulasi risiko melewati wilayah perairan yang berdekatan dengan Selat Hormuz,” ujar Yukki dalam keterangan tertulis, Kamis (19/6/2025).

Selat Hormuz: Nadi Energi Dunia yang Terancam

Menurut Badan Energi Internasional (IEA), Selat Hormuz merupakan titik strategis distribusi energi dunia, dengan sekitar 20 juta barel minyak mentah per hari atau sekitar 30% dari total perdagangan global melintasi perairan ini. Selain itu, sekitar 20% dari pasokan gas alam cair (LNG) dunia juga melewati jalur tersebut.

Jika terjadi blokade, bukan hanya pasokan energi yang terganggu, tetapi juga akses logistik global akan terhambat, menyebabkan disrupsi rantai pasok internasional dan regional, termasuk Asia Tenggara.

Biaya Logistik Diprediksi Melonjak

Selain karena perubahan jalur pengiriman, kenaikan harga minyak mentah akibat konflik juga akan memicu lonjakan biaya operasional logistik.

“Kenaikan harga logistik tak hanya dipicu perubahan rute, tetapi juga lonjakan cost of operations akibat kenaikan harga energi,” jelas Yukki.

Dampaknya, pengiriman barang ekspor-impor Indonesia bisa terganggu, dan daya saing produk nasional ikut tertekan. Terlebih, dunia saat ini sedang menghadapi perlambatan ekonomi global akibat perang tarif sepanjang 2025.

Ancaman Efek Domino: Laut Merah Juga Bisa Terdampak

Yukki juga memperingatkan adanya potensi efek domino dari konflik ini. Jika blokade Selat Hormuz benar terjadi, bukan tidak mungkin akan muncul aksi serupa di Laut Merah—jalur penting lainnya yang sempat mengalami krisis pada akhir 2023 hingga awal 2024 akibat serangan militan.

“Jika eskalasi perang berlangsung lama dan meluas ke jalur-jalur utama lainnya seperti Laut Merah, maka pelaku usaha nasional harus siap menghadapi dampaknya terhadap waktu dan biaya logistik,” ujarnya.

Pengalaman dari krisis Laut Merah sebelumnya menunjukkan biaya pengangkutan melonjak signifikan dan waktu pengiriman menjadi jauh lebih lama, yang tentunya membebani rantai pasok dan pasokan kebutuhan nasional.