KALIMANTANLIVE.COM – Alih-alih jadi pesta megah sepak bola dunia, Piala Dunia Antarklub 2025 justru banjir kritikan dari berbagai penjuru. Mulai dari kondisi lapangan yang buruk, cuaca ekstrem, tiket yang seret terjual, hingga pertandingan yang timpang membuat turnamen ini disorot tajam oleh publik dan media internasional.
Turnamen yang digelar di Amerika Serikat ini resmi dimulai sejak Minggu (15/6) lalu. Namun dalam hitungan hari, segudang masalah teknis mulai bermunculan—dan langsung dikeluhkan oleh para peserta.
Lapangan Kering, Final Terancam?
# Baca Juga :Piala Dunia Antarklub 2025 Kian Memalukan! Laga Ulsan vs Mamelodi Cuma Disaksikan 3.000 Orang
# Baca Juga :Jadwal Lengkap Manchester City di Piala Dunia Antarklub 2025: Diadang Juventus hingga Wydad
# Baca Juga :Piala Dunia Antarklub 2025: Jackpot Global Rp16,2 Triliun, Eropa Berjaya!
# Baca Juga :Klasemen Akhir Liga 1 2024/2025: Persib Juara, Dewa United Runner-up, Malut United dan Persebaya ke ASEAN
Salah satu keluhan datang dari pertandingan antara Palmeiras vs FC Porto yang berlangsung di MetLife Stadium, New Jersey—venue yang rencananya akan menjadi lokasi final bulan depan. Estevao, pemain muda Palmeiras yang sedang naik daun, mengkritik kondisi rumput yang dianggap terlalu kering dan mengganggu tempo permainan.
“Saya pikir lapangan seharusnya disiram lebih banyak karena bola sedikit lambat. Ini berdampak pada ritme kami maupun Porto. Untungnya hujan turun di tengah laga, membuat bola bisa mengalir lebih lancar,” ujar Estevao seperti dikutip New York Times.
Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius, mengingat MetLife Stadium menjadi salah satu ikon stadion utama di AS dan akan menghelat pertandingan-pertandingan besar, termasuk final Piala Dunia 2026.
Terik Matahari 40 Derajat, PSG Protes Jadwal
Tak berhenti di masalah lapangan, cuaca panas ekstrem juga jadi sorotan. Dalam laga antara Paris Saint-Germain vs Atletico Madrid yang digelar Senin (16/6) di California, pertandingan dilangsungkan pada pukul 12.00 siang waktu setempat—di bawah terik matahari yang mencapai 40 derajat Celsius.
“Pertandingan jelas sangat terpengaruh temperatur. Tak mungkin bermain di level tertinggi selama 90 menit dalam cuaca seperti itu,” keluh pelatih PSG, Luis Enrique, usai timnya menang 4-0.
Kondisi tersebut memunculkan tanda tanya besar terhadap perencanaan jadwal oleh panitia dan kesiapan infrastruktur pendukung, terutama dalam menjaga kebugaran dan keselamatan pemain.







