SURABAYA, KALIMANTANLIVE.COM – Duka menyelimuti kedatangan rombongan jemaah haji Kloter 29 Debarkasi Surabaya. Dua jemaah asal Bangkalan, Madura, dilaporkan meninggal dunia saat masih berada di dalam pesawat, Jumat (20/6/2025).
Keduanya adalah Mukatin Wakimin (68) dan Salimah Deman (88), warga Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan. Keduanya diketahui duduk berdekatan di pesawat, dan wafat hanya berselang beberapa saat.
# Baca Juga :Flamengo Bangkit dan Bungkam Chelsea 3-1, Lolos sebagai Juara Grup D
# Baca Juga :PT Infomedia Nusantara (Telkom Group) Buka Lowongan HR Operation, Cek Syarat dan Lokasinya!
# Baca Juga :Heboh Uang Rupiah Edisi 80 Tahun Kemerdekaan RI, Ini Kata Bank Indonesia!
# Baca Juga :Dramatis! Bayern Muenchen Tumbangkan Boca Juniors 2-1 dan Lolos ke 16 Besar Piala Dunia Antarklub 2025
Satu Meninggal karena Hipertensi, Satunya Syok Melihat Rekan Wafat
Plh Sekretaris Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Surabaya, Sugiyo, mengaku kaget dengan laporan yang diterima timnya.
“Kami juga terkejut, ternyata dalam Kloter 29 ada dua jemaah asal Bangkalan yang wafat. Berusia 68 dan 88 tahun. Dua-duanya perempuan,” ujar Sugiyo di Asrama Haji Embarkasi Surabaya, Jumat.
Menurutnya, Mukatin wafat lebih dulu akibat hipertensi yang dideritanya. Ia pingsan dan tak sadarkan diri di dalam pesawat, meskipun sempat mendapatkan bantuan medis.
Yang membuat peristiwa ini lebih memilukan, Salimah, yang duduk tak jauh dari Mukatin, disebut mengalami syok berat setelah melihat kejadian tersebut.
“Yang satu meninggal karena hipertensi. Yang satu lagi shock setelah menyaksikan rekannya mengembuskan napas terakhir. Itulah informasi yang kami terima dari tim data,” jelas Sugiyo.
Putra Salimah Sempat Menemani Ibunya Sebelum Wafat
Putra almarhumah Salimah, Adnan, mengisahkan detik-detik terakhir ibunya. Ia menyebut kondisi sang ibu semula dalam keadaan sehat dan duduk hanya tiga baris dari posisi Mukatin.
Sekitar satu jam sebelum pesawat mendarat di Bandara Juanda, ibunya meminta untuk mengganti popok dan menuju toilet.
“Saya bilang ke Umi, kalau pusing jangan ganti di dalam toilet, mending di luar. Tapi akhirnya saya bantu menggantikan popok Umi,” kata Adnan.
Setelah selesai, Salimah berjalan sendiri kembali ke kursinya. Ia duduk di dekat jendela, dan Adnan kemudian membantunya memasang sabuk pengaman.







