JAKARTA, Kalimantanlive.com – Ambisi Samsung untuk mempopulerkan ponsel ultra-tipis tampaknya menghadapi hambatan besar.
Galaxy S25 Edge, yang baru dirilis pada Mei lalu, dilaporkan mengalami penurunan produksi drastis hanya dalam hitungan minggu setelah peluncuran, menandakan respons pasar yang jauh dari ekspektasi.
BACA JUGA: Update Harga Samsung Galaxy A35 5G (8/256 GB) Juni 2025: Stabil di Rp 4 Jutaan, Ini Spesifikasinya
Hadir dengan desain ramping dan futuristik, Galaxy S25 Edge dibalut bodi titanium setebal hanya 5,8 mm—menjadikannya salah satu ponsel tertipis buatan Samsung. Namun, keunggulan desain tersebut tampaknya belum cukup menarik minat pasar secara luas.
Menurut laporan dari The Elec, Samsung secara signifikan memangkas volume produksi Galaxy S25 Edge untuk bulan Juni. Langkah ini terbilang tidak lazim bagi lini flagship, yang umumnya mempertahankan produksi tinggi dalam beberapa bulan pertama pasca peluncuran.
Galaxy S25 Edge sejatinya dirancang sebagai alternatif dari varian “Plus” dalam seri Galaxy S26 yang diprediksi akan kurang diminati. Namun rendahnya permintaan sejak awal membuat Samsung harus mengevaluasi kembali strategi tersebut.
Salah satu penyebab yang disorot adalah kompromi teknis akibat desain super tipis—seperti kapasitas baterai yang lebih kecil dan sistem pendinginan yang kurang optimal. Dua hal ini menjadi faktor penting bagi konsumen masa kini, yang semakin mengutamakan performa dan daya tahan perangkat.









