KALIMANTANLIVE.COM – Klaim kemenangan Amerika Serikat atas program nuklir Iran kini dipertanyakan. Laporan terbaru dari Defense Intelligence Agency (DIA) menyebutkan bahwa serangan militer AS ke tiga fasilitas nuklir Iran gagal menghancurkan komponen inti, dan kemungkinan besar hanya menunda program tersebut selama beberapa bulan.
Penilaian itu kontras dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang sebelumnya menyatakan bahwa fasilitas nuklir Iran telah “dilenyapkan sepenuhnya”. Menteri Pertahanan Pete Hegseth pun menyebut ambisi nuklir Teheran telah musnah. Namun, informasi intelijen menyebut sebaliknya.
# Baca Juga :TERUNGKAP FAKTA! Kenapa Mobil Formula E Tak Boleh Ngebut hingga 322 Km/Jam di Jakarta?
# Baca Juga :Tragedi Rinjani: Juliana Marins Ditemukan Tewas di Kedalaman 600 Meter, Proses Evakuasi Dramatis Terus Berlanjut
# Baca Juga :Hati Terbelah! Inul Daratista Tinggalkan Suami Tercinta yang Masih Dirawat Demi Tanggung Jawab Kerja
# Baca Juga :Iran Umumkan Gencatan Senjata! Perang 12 Hari Lawan Israel Resmi Berakhir, Ketiga Pihak Klaim Menang
Uranium Tak Hancur, Sentrifus Masih Utuh
Mengutip laporan CNN, sejumlah sumber menyatakan bahwa persediaan uranium yang diperkaya Iran tetap utuh. Bahkan, banyak sentrifus tidak rusak dalam serangan tersebut. Beberapa sumber intelijen menduga Iran telah memindahkan uranium sebelum AS melancarkan serangan.
Gedung Putih mengakui adanya laporan dari DIA tersebut, namun menolak kesimpulannya. Militer AS sendiri menyatakan bahwa operasi berjalan “sesuai rencana dengan keberhasilan luar biasa”, meskipun diakui bahwa masih terlalu dini untuk membuat penilaian akhir atas dampak serangan tersebut.
B-2 Bomber Hantam Natanz dan Fordow, Tapi…
Dalam operasi tersebut, Jet pembom siluman B-2 menjatuhkan belasan bom penghancur bunker ke fasilitas Fordow dan Natanz, pusat pengayaan nuklir utama Iran. Namun, sumber intelijen menyebut bahwa bom tersebut tidak sepenuhnya menghancurkan infrastruktur utama di bawah tanah.
Kerusakan terbesar tercatat hanya pada bangunan di atas permukaan, seperti infrastruktur listrik dan fasilitas pendukung yang mengubah uranium menjadi logam untuk pembuatan senjata. Fasilitas utama, yang berada jauh di bawah tanah, tampak masih bisa difungsikan kembali.
Israel, yang ikut terlibat dalam serangan tersebut, juga menemukan bahwa kerusakan di Fordow lebih sedikit dari yang diperkirakan. Meski demikian, otoritas Israel percaya bahwa aksi gabungan mereka dengan AS setidaknya menunda program nuklir Iran hingga dua tahun.
Bom Tak Mampu Menembus Kedalaman Isfahan dan Parchin
Salah satu alasan utama gagalnya penghancuran total adalah konstruksi bawah tanah fasilitas nuklir Iran yang sangat dalam. Serangan ke Isfahan bahkan tidak menggunakan bom penghancur bunker, melainkan rudal Tomahawk yang diluncurkan dari kapal selam.
Ahli senjata dan analis satelit, Jeffrey Lewis, menyebut bahwa fasilitas di Natanz, Isfahan, dan Parchin dapat menjadi dasar untuk pemulihan cepat program nuklir Iran. Ia menegaskan bahwa gencatan senjata terjadi tanpa penghancuran total terhadap target utama.
“Fasilitas-fasilitas ini tetap berdiri dan mampu difungsikan kembali. Tidak ada bukti bahwa AS atau Israel telah menghapus kemampuan nuklir Iran sepenuhnya,” tegas Lewis.







