KALIMANTANLIVE.COM – Sebuah penemuan arkeologis mengejutkan terjadi di Kota Dijon, Prancis. Tim arkeolog dari Institut National de Recherches Archéologiques Préventives (INRAP) menemukan ruang bawah tanah yang telah terkubur selama lebih dari 400 tahun di bawah Gereja Saint-Philibert, yang sedang menjalani proyek restorasi besar.
Penemuan tak terduga ini bermula saat lantai beton gereja dibongkar, membuka jalan menuju tangga batu kuno yang mengarah ke ruang bawah tanah. Saat ditelusuri, tangga tersebut membawa para arkeolog menuju makam massal yang menyimpan puluhan jasad, termasuk orang dewasa dan anak-anak.
# Baca Juga :Lukisan Kuno yang Terkubur 2.000 Tahun di Pompeii Ditemukan, Arkeolog Sebut Awal Mula Perang Troya
# Baca Juga :Kepulauan Farasan Saudi Banyak Terkubur Artefak Kuno, Tim Arkeolog Temukan Peninggalan Romawi Kuno
# Baca Juga :Temukan Jalan Raya Kuno di Arab Saudi, Arkeolog Ungkap Jejak Orang Arabia pada Zaman Perunggu Awal
# Baca Juga :Meksiko Temukan Situs Arkeologi Suci Ribuan Tahun Lalu saat Bangun Proyek Kereta Maya
Jejak Makam Tersembunyi di Bawah Gereja Tua
Mengutip laporan dari Science Alert, Senin (25/6/2025), penggalian ini menemukan sarkofagus batu dari abad ke-6, serta makam batu lainnya yang diperkirakan berasal dari abad ke-11 hingga ke-13.
Dalam ruang bawah tanah yang sunyi itu, para arkeolog mendapati jasad-jasad yang dikubur dalam peti kayu. Seiring waktu, ketika ruang makin sempit, tulang belulang dari jenazah lama dipindahkan ke sisi ruangan untuk memberi tempat bagi jenazah baru. Penemuan ini menunjukkan praktik pemakaman berulang yang umum pada masa itu, terutama saat terjadi bencana seperti wabah penyakit atau kelaparan.
Pemakaman Massal dari Abad Pertengahan
Lebih dalam di bagian tengah gereja, ditemukan pula makam-makam lain yang berasal dari abad ke-14 hingga ke-18. Seluruh jasad dikubur menghadap timur–barat, sebagian besar dalam keadaan dikafani, sesuai tradisi pemakaman Kristen pada masa itu.
Meski benda pribadi sangat jarang ditemukan, para peneliti berhasil mengidentifikasi keberadaan dua rosario dan beberapa keping koin, yang memberi petunjuk tentang ritual keagamaan dan status sosial orang-orang yang dimakamkan.
Gereja Bersejarah yang Rusak oleh Garam
Gereja Saint-Philibert sendiri berdiri megah sejak paruh kedua abad ke-12 dan merupakan satu-satunya gereja bergaya arsitektur Romawi yang masih tersisa di Dijon. Namun, nasib tragis menimpanya setelah Revolusi Prancis, ketika gereja dinonaktifkan dan dijadikan gudang penyimpanan garam.
Kristal garam yang menyerap ke dalam struktur batu membuat bangunan ini rapuh dan retak. Ironisnya, renovasi pada tahun 1974 memperparah kerusakan. Saat itu dipasang lantai beton berpemanas yang justru menarik lebih banyak uap air dan garam ke dalam fondasi bangunan.







