NASA Ungkap Bendungan Raksasa China Pengaruhi Rotasi Bumi dan Ganggu Sistem Waktu Dunia!

KALIMANTANLIVE.COM – Ambisi manusia membangun struktur raksasa ternyata tak hanya mengubah wajah planet, tetapi juga memengaruhi fisika Bumi itu sendiri. Temuan mengejutkan dari NASA menunjukkan bahwa Bendungan Tiga Ngarai di China—proyek hidroelektrik terbesar di dunia—bukan sekadar pencapaian teknik, tapi juga memiliki dampak nyata terhadap rotasi dan waktu di Bumi.

# Baca Juga :Taksi Terbang EHang 216-S Resmi Angkut Penumpang di Indonesia: Spek Futuristik, Aman Tanpa Pilot!

# Baca Juga :Lengkap! Bacaan Doa Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H: Arab, Latin, dan Terjemahannya

# Baca Juga :Bongkar Jaringan Narkoba Internasional Asal China, Polisi Sita 10 Kg Sabu di Makassar!

# Baca Juga :Lowongan Sales Marketing Alkes di PT. Gema Sukses Nusantara Alkesindo, Cek Syaratnya!

Air 10 Triliun Galon, Hari Lebih Panjang

Bendungan Tiga Ngarai menyimpan hingga 10 triliun galon air dalam kondisi penuh. Menurut data NASA, redistribusi massa air sebesar itu dapat mengubah kecepatan rotasi Bumi, memperpanjang hari hingga 0,06 mikrodetik.

Meski terlihat kecil, perubahan ini memberi dampak besar dalam sistem navigasi, GPS, dan pengukuran waktu presisi tinggi yang digunakan dunia saat ini.

“Pergeseran massa Bumi sekecil apa pun bisa menimbulkan efek sistemik terhadap siklus harian,” ungkap laporan ilmiah NASA.

Infrastruktur Manusia vs Sistem Alami

Fenomena ini bukan yang pertama. Gempa bumi besar tahun 2004 diketahui memperpendek hari hingga 2,68 mikrodetik. Sama halnya, bendungan raksasa ini menciptakan redistribusi massa Bumi yang menyebabkan efek seismik mikro namun signifikan.

Hal ini menjadi bukti bahwa aktivitas manusia skala besar dapat menciptakan gangguan terhadap sistem planet, dari rotasi, iklim, hingga poros Bumi.

Kinerja Energi Tak Sehebat Dampaknya?

Meski dirancang untuk memenuhi 10% kebutuhan listrik nasional China, saat ini Bendungan Tiga Ngarai hanya mampu memasok sekitar 3%, jauh di bawah ekspektasi. Namun ironisnya, dampak lingkungan dan geofisikanya jauh lebih besar dari hasil energi yang dihasilkan.

“Bukan hanya soal energi, tapi juga efek jangka panjang terhadap keseimbangan planet,” kata laporan Glassalmanas yang mengutip analisis teknis proyek tersebut.