WADUH! China Ramai-ramai Turunkan Harga Mobilnya di Indonesia! Ada Apa?

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Pasar otomotif Indonesia tengah dihebohkan dengan fenomena penurunan harga mobil baru secara signifikan dalam setahun terakhir. Beberapa merek otomotif, terutama dari Tiongkok, seperti Neta, MG, Wuling, BAIC, Jetour, dan Chery, mulai menyesuaikan harga demi menarik minat konsumen di tengah persaingan yang semakin ketat dan daya beli masyarakat yang melemah.

Mobil Listrik dan SUV Turun Harga Ratusan Juta

Sebagai contoh, Neta Indonesia memangkas harga mobil listrik Neta V dari Rp 317 juta menjadi Rp 299 juta setelah beralih ke produksi lokal di pabrik PT Handal Indonesia Motor (HIM) dengan nama baru Neta V-II.

# Baca Juga :BCL Ziarah ke Makam Ashraf Bersama Noah dan Keluarga: “Ingat Bahagia, Meski Hidup Tak Selalu Baik”

# Baca Juga :Juliana Tewas Tragis di Rinjani, Brasil Siap Seret Indonesia ke Jalur Hukum HAM Internasional!

# Baca Juga :Tragis! Longboat Mahasiswa UGM Tenggelam Dihantam Ombak 2,5 Meter di Maluku Tenggara, 1 Tewas dan 1 Hilang

# Baca Juga :Aksi Fortuner Camat Tabrak S-Presso Hebohkan Warganet, Bupati Cilacap Angkat Suara!

Sementara itu, MG Motor Indonesia melakukan pemangkasan besar-besaran terhadap harga mobil listrik MG 4EV dari Rp 649–699 juta menjadi hanya Rp 395 juta usai proses perakitan dilakukan di Cikarang, Jawa Barat.

Chery juga tak ketinggalan menurunkan harga untuk dua model andalannya, Omoda 5 dan Omoda E5, hingga Rp 100 juta melalui versi facelift terbaru.

Merespons tren ini, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian, Mahardi Tunggul Wicaksono, menyebut penyesuaian harga tersebut masih dalam batas wajar, asalkan tidak menurunkan kualitas kendaraan.

“Kalau kita lihat kondisi di Indonesia, di mana daya beli kemungkinan sedang turun, penyesuaian harga ini masuk akal dari sudut pandang bisnis ritel,” ujarnya saat ditemui di Purwakarta, Selasa (1/7/2025).

Mahardi menegaskan bahwa setiap kendaraan tetap harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan tidak asal murah tanpa jaminan mutu.

“Yang penting kualitasnya tetap memenuhi standar yang ada. Karena kami sebagai regulator sudah menetapkan standarnya, dan itu menjadi perhatian utama kami,” tambahnya.

Harapan Pemerintah

Selain harga yang lebih terjangkau, Mahardi berharap tren ini diiringi dengan peningkatan kandungan lokal (local content) dalam produksi. Menurutnya, hal ini penting untuk memperkuat industri otomotif nasional, mendorong investasi, dan membuka lebih banyak lapangan kerja.

Perang Harga di China

Fenomena penurunan harga ini tak lepas dari kondisi pasar otomotif di China, yang kini tengah dilanda perang harga besar-besaran. Bahkan raksasa otomotif seperti BYD memangkas harga mobilnya hingga di bawah biaya produksi.

Contohnya, model BYD Seagull kini dijual sekitar Rp 125 juta, dari sebelumnya hampir Rp 140 juta.

“Saya kurang paham kondisi detail di China, tapi kalau melihat Indonesia, penyesuaian harga ini bisa dimaklumi. Yang penting jangan sampai kualitas turun dan industri lokal terganggu,” ujar Mahardi.

Industri Otomotif Masuk Titik Kritis?

Menurut Tu Le, Managing Director Sino Auto Insights, langkah BYD menjadi sinyal bahwa pasar mobil China sudah mencapai titik jenuh. Bahkan Chairman Great Wall Motors, Wei Jianjun, menyebut persaingan yang terlalu brutal membuat pasar menjadi tidak sehat.