KALIMANTANLIVE.COM – Dunia internasional diguncang oleh bocornya rekaman suara mengejutkan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Dalam rekaman tersebut, Trump terdengar mengancam akan membombardir Beijing dan Moskwa jika China menyerang Taiwan atau Rusia menyerbu Ukraina.
Pernyataan tersebut terekam dalam sesi penggalangan dana pada 2024—sebelum Trump terpilih kembali sebagai Presiden AS. Potongan rekaman itu kini menjadi perbincangan panas usai dipublikasikan oleh sejumlah jurnalis politik Amerika.
# Baca Juga :Laris Manis! Mobil Listrik GWM Ora 03 Banjir Peminat, Pengiriman Dimulai Agustus
# Baca Juga :Bangun Tidur Langsung Cek HP? Hati-Hati, Ini 4 Dampak Serius Bagi Kesehatan Mental dan Fisik!
# Baca Juga :Korea Geger! Pengadilan Perintahkan Penangkapan Ulang Eks Presiden Yoon Suk Yeol
# Baca Juga :Harga Emas Dunia Naik Tipis, Investor Waspadai Tarik Ulur Perang Dagang AS
“Saya bilang ke Xi Jinping, kalau kamu invasi Taiwan, saya akan bom Beijing,” ujar Trump dalam rekaman yang dikutip CNN, Selasa (8/7/2025).
Trump juga mengaku pernah melontarkan ancaman serupa ke Presiden Rusia Vladimir Putin.
“Kalau kamu masuk ke Ukraina, saya akan bom habis-habisan Moskwa. Saya tidak punya pilihan lain,” katanya.
China Sensor, Kremlin Bungkam
Pemerintah China bereaksi dengan menyensor seluruh pernyataan Trump dari pemberitaan dalam negeri, begitu rekaman bocor ini viral di media asing.
Sementara itu, Juru Bicara Kedutaan Besar China di AS, Liu Pengyu, hanya memberikan pernyataan singkat:
“Saya tidak mengetahui situasi tersebut,” ujar Liu, dikutip dari Newsweek, Rabu (9/7/2025).
Dari Moskwa, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov juga memilih untuk tidak mengonfirmasi isi rekaman.
“Apakah itu palsu atau tidak, kami juga tidak tahu. Banyak berita palsu akhir-akhir ini,” ujarnya kepada CNBC.
Trump: Mereka Tak Berani Serang Saat Saya Presiden
Rekaman tersebut semakin memperkuat narasi Trump bahwa konflik besar seperti perang Ukraina–Rusia tidak akan terjadi jika ia masih menjabat sebagai presiden.
Bahkan saat ini, setelah kembali menjabat selama lebih dari enam bulan, Trump menegaskan frustrasinya terhadap Putin yang tak kunjung menyepakati gencatan senjata.
Gedung Putih juga membela pernyataan Trump dengan menyebut bahwa di bawah kepemimpinannya, Rusia tidak pernah berani menyerang Ukraina.







