JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Pemerintah akhirnya bersiap menyetarakan harga gas melon 3 kg di seluruh wilayah Indonesia. Kebijakan ini dipastikan akan mengubah peta distribusi energi nasional, sekaligus menyudahi perbedaan harga mencolok antar daerah yang selama ini bikin rakyat kecil meradang.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengonfirmasi bahwa rencana “LPG Satu Harga” akan diterapkan secara nasional mulai tahun 2026.
# Baca Juga :Bahlil Siap Lawan Mafia Migas: Harga Elpiji 3 Kg Harus Sesuai Subsidi!
# Baca Juga :FATWA MUI: Orang Kaya Mengonsumsi Elpiji 3 Kg dan Pertalite Bersubdsidi Haram!
# Baca Juga :Emak-Emak Harus Tahu! Mulai 2024 Tak Semua Bisa Beli Elpiji 3 Kg, Hanya Orang Ini yang Diizinkan
# Baca Juga :SIAP-siap! Kamu Tak Bisa Beli Elpiji 3 Kg Lagi, Kementerian ESDM Mulai Lakukan Pendataan
“Karena ini LPG satu harga, maka harga ditetapkan oleh pemerintah pusat. Kalau diserahkan ke daerah, akan terus terjadi disparitas harga,” tegas Yuliot dalam pernyataannya, Jumat (4/7/2025).
Seperti Pertalite, Gas Elpiji Juga Akan Dihargai Seragam
Tujuan utama dari kebijakan ini adalah keadilan bagi seluruh masyarakat, termasuk di wilayah dengan daya beli rendah. Pemerintah juga tengah merancang regulasi khusus untuk memastikan distribusi dan pengawasan berjalan ketat dan merata.
Namun, sebelum kebijakan ini benar-benar diterapkan, mari tengok fakta di lapangan: berapa sebenarnya harga elpiji 3 kg di berbagai daerah saat ini?
Selisih Harga Gas Melon di Lapangan Bikin Geleng-Geleng!
Jakarta
HET Resmi: Rp 16.000 – Rp 19.500 (Kepulauan Seribu)
Harga Nyata di Pengecer: Rp 21.000
“Rp 21.000 terakhir gue beli,” kata Cantik (25), warga Jakarta Barat.
Jawa Barat
HET Resmi (Kota Bandung): Rp 19.000
Harga Pengecer: Rp 20.000 – Rp 23.000
“Tokoku jual 23,” ungkap Putri (23).
Jawa Tengah
HET Resmi: Rp 18.000
Harga Lapangan:
Semarang: Rp 19.000 – Rp 23.000
Sukoharjo: Rp 18.000 – Rp 22.000
“Semakin ke pelosok, harga makin mahal,” ungkap Muji (60), warga Sukoharjo.







