GAZA, KALIMANTANLIVE.COM — Tragedi kemanusiaan di Gaza kembali mengoyak nurani dunia. Sebanyak 93 warga Palestina tewas tertembak pasukan Israel saat berupaya mendapatkan bantuan kemanusiaan di tengah blokade yang memiskinkan mereka. Ratusan lainnya luka-luka dalam insiden yang terjadi Minggu (20/7/2025).
Peristiwa memilukan itu terjadi ketika 25 truk bantuan dari Program Pangan Dunia (WFP) memasuki wilayah utara Gaza, namun disambut bukan dengan keamanan, melainkan tembakan brutal dari militer Israel.
# Baca Juga :30 Wanita Australia Masuk Islam Bersama di Masjid Melbourne, Mengaku Tersentuh Perjuangan Rakyat Palestina
# Baca Juga :Pjs Wali Kota Banjarbaru Nurliani Dardie Dukung Aksi Solidaritas Gerakan Umat Kalsel Peduli Palestina
# Baca Juga :Donasi untuk Palestina, UPZ Bank Kalsel Kumpulkan Dana Rp 36 Juta, Fajri: Dari Seluruh Karyawan
“Tank-tank menembak secara acak, dan penembak jitu Israel menargetkan warga seperti sedang berburu hewan,” ungkap Qasem Abu Khater (36), salah satu warga yang selamat, kepada AFP.
Menurut juru bicara Badan Pertahanan Sipil Gaza, Mahmud Basal, sebanyak 80 warga tewas di utara Gaza, 9 orang tewas di Rafah, dan 4 lainnya di Khan Yunis.
Sementara itu, militer Israel membantah tuduhan penembakan massal. Mereka mengklaim hanya melepaskan “tembakan peringatan” untuk membubarkan kerumunan.
Namun kesaksian warga dan investigasi WFP menunjukkan sebaliknya. Lembaga PBB itu bahkan menyebut tindakan Israel sebagai sesuatu yang “sangat tidak dapat diterima”.
WFP: 800 Lebih Warga Tewas Saat Cari Bantuan Sejak Mei
Insiden berdarah ini bukan yang pertama. Menurut catatan PBB, sejak akhir Mei 2025, setidaknya 800 warga Palestina tewas di lokasi-lokasi distribusi bantuan akibat tembakan militer Israel.
Situasi ini menjadi bukti nyata bahwa mencari makan di Gaza bisa berarti mempertaruhkan nyawa.
Warga Dipaksa Mengungsi Lagi, Gaza Nyaris Tanpa Wilayah Aman
Di tengah krisis makanan dan tembakan peluru, warga Gaza kini juga harus menghadapi ancaman relokasi massal. Israel mengeluarkan perintah evakuasi untuk penduduk Deir Al Balah, wilayah yang sebelumnya dianggap “aman”.







