Namun ia memberi peringatan, bila tren ini terus berlanjut seiring lesunya ekonomi, bukan cuma sektor ritel yang akan terdampak, tapi juga manufaktur, jasa, dan keuangan.
“Kalau daya beli tidak pulih, efek domino-nya akan ke mana-mana,” tegasnya.
Meski demikian, Alphonzus yakin fenomena Rojali ini hanya bersifat sementara, dan akan hilang seiring pulihnya ekonomi.
Apakah Rojali Cermin Gaya Hidup Hemat atau Tanda Krisis Konsumsi?
Fenomena ini membuka diskusi menarik: apakah nongkrong hemat ini mencerminkan gaya hidup minimalis, atau gejala serius ekonomi rakyat? Yang jelas, para pelaku usaha kini harus kreatif menangkap peluang di tengah rombongan yang jarang beli.
(kalimantanlive.com/sumber lainnya)
editor : TRI










