KALIMANTANLIVE.COM – Cusco, Peru. Dunia arkeologi gempar! Labirin bawah tanah legendaris milik Suku Inca yang selama berabad-abad hanya dianggap mitos, akhirnya ditemukan dan dikonfirmasi kebenarannya.
Para arkeolog Peru berhasil menemukan jaringan terowongan rahasia yang menghubungkan Kuil Matahari di Cusco dengan Benteng Sacsahuaman, membentang sejauh lebih dari 1 kilometer di bawah tanah. Temuan ini membuktikan bahwa kisah-kisah dari abad ke-16 bukan sekadar legenda lama.
# Baca Juga :Indonesia Geram! Israel Dituding Biang Kelaparan Massal di Gaza, Kemlu Desak DK PBB Bertindak!
# Baca Juga :Usulan Gubernur Ditunjuk Pusat, NasDem Siap ‘Ngopi Bareng’ Cak Imin! Masa Depan Demokrasi RI Dipertaruhkan
# Baca Juga :Duel Panas di GBK! Indonesia Siap Benam Thailand di Semifinal ASEAN Cup 2025, Begini Strategi Garuda Muda
# Baca Juga :Hulk Hogan Meninggal Dunia di Usia 71 Tahun, Serangan Jantung Jadi Dugaan Terkuat
“Kami menemukan cabang utama chincana yang mengarah langsung ke Sacsahuaman. Ini sangat besar,” ungkap arkeolog Jorge Calero Flores dalam konferensi pers penuh antusias, Kamis (24/7/2025).
Jejak Tersembunyi di Perut Bumi Cusco
Labirin kuno ini memiliki tiga cabang kecil lainnya yang menjalar hingga ke sekitar Gereja San Cristóbal, kawasan Callispuquio, dan area dekat benteng. Terowongan dibangun dengan cermat menggunakan teknik khas Inca: menggali parit lalu menyusun dinding batu dan atap dari balok yang diukir presisi.
“Lebarnya sekitar 2,8 meter dan tingginya 1,6 meter. Kami menduga para bangsawan Inca dibawa dengan tandu melewati lorong ini,” tambah Calero.
Mitos Jadi Fakta: Terinspirasi Teks Abad ke-16
Penemuan ini bermula dari teks para misionaris Jesuit dan sejarawan Anello de Oliva. Dalam catatan tahun 1594, disebutkan adanya terowongan rahasia yang menghubungkan kediaman uskup dengan Katedral Cusco—semuanya merujuk ke Kuil Matahari sebagai pusatnya.
“Teks-teks itu memberi kami petunjuk penting ke mana harus mencari,” kata Calero.
Teknologi Modern Bongkar Rahasia Lama
Sebelum melakukan penggalian, tim menggunakan teknologi prospeksi akustik dan radar penembus tanah untuk mendeteksi rongga bawah tanah. Teknik ini memetakan jalur chincana secara akurat—menghindari risiko kerusakan struktur sejarah.










