KALIMANTANLIVE.COM – Konflik antara Thailand dan Kamboja tidak hanya membara di garis perbatasan, tapi juga meledak di medan perang digital! Ribuan netizen dari kedua negara kini terlibat dalam serangan tagar, meme sindiran, dan narasi saling tuduh di berbagai platform media sosial.
Melansir BBC pada Sabtu (26/7/2025), gelombang panas ini dimulai dari bentrokan bersenjata yang pecah di perbatasan sejak Mei lalu dan kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir. Namun kini, “pertempuran” berlanjut di dunia maya, memecah masyarakat sipil menjadi dua kubu nasionalis yang ekstrem.
# Baca Juga :Perang Meledak! Thailand-Kamboja Saling Gempur, WNI Diimbau Waspada, Ternyata Ini Akar Konfliknya!
# Baca Juga :Harga Emas Dunia Naik Tipis, Investor Waspadai Tarik Ulur Perang Dagang AS
# Baca Juga :Perang Makin Memanas! Trump Ancam Deportasi Elon Musk: “Mungkin Harus Pulang ke Afrika Selatan”
# Baca Juga :Iran Umumkan Gencatan Senjata! Perang 12 Hari Lawan Israel Resmi Berakhir, Ketiga Pihak Klaim Menang
“Justice for Cambodia,” tulis seorang pengguna TikTok asal Kamboja, menuduh pasukan Thailand sebagai pihak pemicu.
“Siapa yang percaya negara penipu terbesar bilang apa?” balas netizen Thailand dengan tajam.
Tagar #CambodiaOpenedFire dan #ThailandOpenedFire pun viral, masing-masing disertai video, ilustrasi, hingga sindiran satir yang saling menyudutkan. Netizen jadi pasukan tempur baru yang membawa konflik geopolitik ke ranah publik.
Bukan Sekadar Batas Wilayah, Budaya Pun Jadi Medan Pertempuran!
Tak hanya sengketa perbatasan, konflik ini juga memperlihatkan persaingan identitas budaya yang telah lama memanas.
Frasa seperti “Claimbodia” digunakan netizen Thailand untuk menyindir Kamboja, sementara warga Kamboja membalas dengan sebutan “pencuri Siam”—menunjukkan bagaimana nasionalisme digital bisa menyulut permusuhan.
Beberapa titik api konflik budaya:
SEA Games 2023: Kickboxer Thailand memboikot ajang karena Muay Thai disebut “Kun Khmer”.
Juli 2025: Pencalonan upacara pernikahan Khmer ke UNESCO oleh Kamboja memicu amarah publik Thailand yang menyebutnya sebagai “perampasan budaya terang-terangan”.
Dari Dunia Digital ke Aksi Kekerasan Nyata
Kebencian yang ditanamkan lewat konten media sosial mulai berbuah kekerasan fisik. Sebuah video viral memperlihatkan pria Thailand menampar pekerja Kamboja, hanya karena sang pekerja berbicara dalam bahasa Khmer.
“Kita mulai melihat kekerasan bahkan di antara orang biasa yang sebelumnya hidup berdampingan,” kata Wilaiwan Jongwilaikasaem, profesor jurnalisme dari Universitas Thammasat.
Asosiasi jurnalis dari kedua negara pun angkat suara, menyerukan agar pengguna medsos menahan diri dan tidak ikut menyebarkan informasi sensitif tanpa verifikasi.







