KALIMANTANLIVE.COM – Dunia sedang menghadapi ancaman besar yang tak terlihat: air tawar semakin menyusut, dan situasinya jauh lebih gawat dari yang selama ini diperkirakan.
Sebuah studi terbaru yang dipimpin oleh Jay Famiglietti dari Arizona State University menunjukkan bahwa pasokan air tawar global telah mengalami penurunan drastis sejak 2002. Data ini diperoleh melalui pengukuran gravitasi satelit untuk memetakan perubahan massa air di seluruh benua, termasuk sungai, akuifer bawah tanah, gletser, hingga lapisan es.
# Baca Juga :Hadapi Musim Kemarau, BPBD Kalsel Usulkan 6 Helikopter ke BNPB
# Baca Juga :BPBD Balangan Bersiap Hadapi Musim Kemarau, Siapkan Langkah Antisipasi Kekeringan
# Baca Juga :BPTPH Kalsel Perkuat Penyuluhan dan Pengawasan Cegah Serangan Hama Saat Musim Kemarau
# Baca Juga :Hadapi Musim Kemarau 2025, Pemprov Kalsel Matangkan Strategi Ketahanan Pangan
Air Tanah Disedot, Daratan Mengering, Lautan Meninggi
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Kenaikan suhu global mendorong penguapan, membuat masyarakat mengambil lebih banyak air tanah. Ironisnya, kegiatan manusia ini justru memperparah kelangkaan air dan berkontribusi terhadap naiknya permukaan laut.
Sejak 2015, air tawar yang berpindah dari daratan ke lautan menyumbang kenaikan permukaan laut sebesar satu milimeter setiap tahun — bahkan melampaui kontribusi air lelehan dari kutub.
4 Zona Mega-Kekeringan Teridentifikasi di Dunia
Tim peneliti menemukan bahwa wilayah-wilayah kering tidak hanya bertambah luas—sekitar 800.000 km² setiap tahun—tetapi juga membentuk apa yang mereka sebut sebagai “zona mega-kekeringan.”
Empat kawasan yang terdampak paling parah adalah:
Kanada Utara dan Rusia – kehilangan air akibat mencairnya gletser dan permafrost.
Amerika Serikat bagian Barat Daya & Amerika Tengah – air tanah menipis karena irigasi besar-besaran.
Eropa Barat hingga Afrika Utara – diperparah oleh panas ekstrem dan krisis iklim.
India Utara hingga China – menjadi episentrum penipisan air tanah di Asia.
Fakta Mengejutkan: 68% Kehilangan Air Tawar Berasal dari Air Tanah!
Menurut laporan tersebut, sebanyak 68 persen dari penurunan total air tawar berasal dari air tanah. Penyebab utamanya adalah pemompaan berlebihan saat musim kering dan gelombang panas, yang semakin sering terjadi karena perubahan iklim.
Air Tidak Hilang, Tapi Pindah ke Tempat yang Salah
Manoochehr Shirzaei dari Virginia Tech menyebut bahwa air di Bumi sebenarnya tidak menghilang, namun berpindah ke tempat yang salah—dari daratan ke laut. Inilah yang memicu krisis air tawar dan memperparah perubahan iklim.







