Perang Usai! Thailand–Kamboja Sepakat Gencatan Senjata Mendadak, Lalu Apa Persyaratannya?

KUALA LUMPUR, KALIMANTANLIVE.COM — Setelah hampir lima hari dihantam konflik berdarah di perbatasan, Thailand dan Kamboja akhirnya menyepakati gencatan senjata tanpa syarat yang akan mulai berlaku pada Selasa, 29 Juli 2025 pukul 00.00 waktu setempat.

Kesepakatan penting ini diumumkan langsung oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim usai menjadi mediator dalam pertemuan darurat bilateral yang digelar di Putrajaya, Senin malam (28/7/2025).

# Baca Juga :Perang Bukan Cuma di Perbatasan! Netizen Thailand vs Kamboja Saling Serang di Medsos, Tagar Panas Membara!

# Baca Juga :Drone Tempur Thailand Menggila! Pos Militer Kamboja Hancur, 582 Sekolah Ditutup, Ribuan Warga Mengungsi

# Baca Juga :Konflik Thailand-Kamboja Memanas, Serangan Udara Tewaskan 12 Orang

# Baca Juga :Perang Meledak! Thailand-Kamboja Saling Gempur, WNI Diimbau Waspada, Ternyata Ini Akar Konfliknya!

“Kamboja dan Thailand sepakat atas dua hal: gencatan senjata segera dan tanpa prasyarat, serta komitmen untuk menurunkan eskalasi secara menyeluruh,” ujar Anwar dalam konferensi pers, dikutip dari AFP.

5 Hari Neraka di Perbatasan: 35 Orang Tewas, Ribuan Mengungsi

Ketegangan antara kedua negara meledak menjadi perang terbuka pada Kamis, 24 Juli 2025, dipicu oleh sengketa wilayah lama yang sudah membara selama puluhan tahun. Konflik ini menjadi salah satu yang paling mematikan sejak bentrokan besar terakhir pada 2011.

Sejak baku tembak pertama meletus:

35 orang tewas (22 di pihak Thailand, 13 dari Kamboja)

Lebih dari 200 orang terluka

219.000 warga sipil mengungsi dari tujuh provinsi di sepanjang garis perbatasan

Korban di Thailand termasuk 14 warga sipil, sedangkan delapan dari 13 korban tewas di Kamboja juga berasal dari kalangan non-militer. Provinsi Oddar Meanchey menjadi wilayah yang paling terdampak di Kamboja.

Dari Peluru hingga Diplomasi: Bagaimana Gencatan Senjata Tercapai

Sumber diplomatik menyebut bahwa intervensi Malaysia menjadi kunci keberhasilan perundingan damai. Kedua negara sebelumnya menolak berkomunikasi secara langsung, hingga Malaysia turun tangan sebagai fasilitator netral.

Ketegangan memuncak setelah insiden penembakan seorang tentara Kamboja di zona sengketa pada Mei 2025, yang memicu rentetan aksi balasan berupa serangan artileri lintas batas, tembakan senapan otomatis, dan bahkan serangan udara ringan.