Disdag Kalsel Waspadai Beras Oplosan di Ritel Modern, Minta Warga Lebih Teliti

Meski demikian, Gia—sapaan akrab Ahmad Bagiawan—mengimbau masyarakat tidak perlu panik, karena selera konsumsi masyarakat Banua cenderung tidak menyukai jenis beras oplosan, seperti beras pulen.

“Warga Banjar lebih memilih beras lokal atau beras karau,” katanya.

BACA JUGA: Stabilkan Harga Jelang Hari Raya Idul Fitri, Disdag Kalsel Gelar Pasar Murah di Balangan

Kalsel sendiri memiliki surplus beras. Data Disdag mencatat produksi gabah lokal mencapai 1 juta ton per tahun, setara 550 ribu ton beras, sementara konsumsi hanya 450 ribu ton. Surplusnya biasa disalurkan ke provinsi tetangga seperti Kalteng dan Kaltim.

Disdag Kalsel juga telah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum, termasuk Polda Kalsel, serta terlibat dalam pertemuan lintas sektor bersama Bank Indonesia dalam upaya pengendalian inflasi daerah.

“Jika masyarakat menemukan beras kemasan yang mencurigakan atau berbeda dengan label, segera laporkan ke Dinas Perdagangan. Pengawasan ini perlu melibatkan peran aktif konsumen,” pungkas Gia.

Sumber: MC Kalsel