KALIMANTANLIVE.COM – Setelah mencatat reli empat hari berturut-turut, harga batu bara global akhirnya keok. Tekanan pasar global dan aksi ambil untung membuat komoditas andalan ini tersandung pada Rabu, 31 Juli 2025.
Mengutip data Refinitiv, harga batu bara ditutup melemah 0,76% ke posisi US$117,1 per ton. Padahal, sebelumnya batu bara sempat melonjak hingga 5,1% dalam empat hari terakhir.
# Baca Juga :WADUH GAWAT! 9 Juta Data Fans JKT48 Diduga Bocor & Dijual di Forum Gelap! Wota Waspada Serangan Phishing!
# Baca Juga :Harga Batu Bara Acuan RI Anjlok ke US$ 100,97 per Ton, Turun Tajam 17,91% YoY!
# Baca Juga :Truk Angkutan Batu Bara Melintas di Jalan Umum Tabalong Ditertibkan
# Baca Juga :Nekat Naik dan Periksa Muatan, Emak-Emak di Kaltim Berani Hentikan Truk Batu Bara
Profit Taking dan Permintaan Lemah Jadi Biang Kerok
Pakar pasar menyebut koreksi ini sebagai sinyal wajar setelah kenaikan tajam. Aksi profit taking (ambil untung) terjadi serempak saat investor menilai harga sudah terlalu tinggi dalam jangka pendek.
Tak hanya itu, permintaan dari negara konsumen utama seperti Jepang juga mulai goyah.
Data Juni 2025 menunjukkan, impor batu bara Jepang turun 4,3% (yoy) menjadi 10,68 juta ton. Jika dilihat dari semester pertama 2025, total impor Negeri Sakura tersebut juga terkoreksi 4,1% menjadi 74,11 juta ton.
China Kelebihan Pasokan, India & Indonesia Ngebut Produksi
Pasokan batu bara dari China makin melimpah. Arus truk pengangkut batu bara yang tiba di pelabuhan perbatasan Negeri Tirai Bambu meningkat drastis, menandakan surplus stok yang kian besar.
Produksi domestik China pun digenjot maksimal, bersamaan dengan India dan Indonesia yang turut mempercepat penambangan. Hasilnya? Pasar global dibanjiri batu bara, dan harga pun ikut tertekan.
Bahkan, impor batu bara China diprediksi anjlok hingga 100 juta ton pada 2025 karena prioritas penuh pada suplai dalam negeri.
Cuaca Panas & Sungai Rhine Masih Jadi Penahan Sementara
Meski tekanan kuat, harga batu bara masih mendapat angin segar dari sisi cuaca. Kenaikan suhu ekstrem di sejumlah negara, termasuk Jepang, mendorong lonjakan permintaan listrik, yang berarti konsumsi batu bara meningkat untuk pembangkit.
Selain itu, ancaman pengeringan Sungai Rhine di Jerman juga menambah kekhawatiran pasokan, membuat harga sempat bertahan.









