Shock! Antre Haji Indonesia Sampai 47 Tahun, Lansia Baru Berangkat Saat Usia 104 Tahun! Apa Solusinya?

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Bayangkan menabung selama puluhan tahun, menunggu antrean yang tak kunjung pendek, lalu baru bisa berangkat haji saat rambut telah memutih dan tubuh renta. Inilah kenyataan pahit yang dialami jutaan umat Islam Indonesia yang ingin menunaikan rukun Islam kelima.

Saking lamanya antrean, tak sedikit jemaah yang baru bisa berangkat ke Tanah Suci di usia senja. Seperti Marni, nenek asal Lebak, Banten, yang harus menunggu 45 tahun hingga akhirnya berangkat haji di usia 90 tahun.

# Baca Juga :Kebijakan Haji Arab Saudi Kian Gesit, Kemenag Ingatkan Indonesia Harus Gercep dan Kompak!

# Baca Juga :Kemenag Siap Lepas Kewenangan Haji ke BP Haji, Fokus ke Urusan Keagamaan Lain

# Baca Juga :BP Haji Tolak Opsi Pemberangkatan Jemaah via Laut, Dinilai Tidak Efisien

# Baca Juga :89 Jemaah Haji Asal Tabalong Kloter 13 Tiba di Kota Tanjung Tabalong

Marni bukan sosok yang bergelimang harta. Ia hanya tukang pijat yang mulai bekerja sejak 1980 dan menabung dengan sabar hingga 2014. Setelah mendaftar, ia masih harus menunggu 11 tahun untuk akhirnya masuk dalam daftar berangkat haji pada 2025.

Cerita pilu lainnya datang dari Marhamah, nenek asal Pamekasan, Jawa Timur, yang sukses menunaikan ibadah haji di usia 104 tahun, menjadikannya salah satu jemaah tertua di Indonesia pada musim haji 2025. Beruntungnya, karena usianya sangat lanjut, Marhamah mendapat prioritas keberangkatan hanya enam tahun setelah mendaftar pada 2019.
Antrean Haji Makin Gila, Data Tunjukkan Jutaan Masih Mengantre

Menurut Siskohat Kementerian Agama, hingga musim haji 2025, sekitar 5,4 juta calon jemaah masih berada dalam daftar tunggu. Dengan kuota tahunan hanya 210.000, masa tunggu haji kini bervariasi antara 11 hingga 47 tahun, tergantung wilayah pendaftaran.

Daerah dengan antrean tersingkat adalah Kabupaten Maluku Barat Daya (11 tahun), sedangkan antrean terpanjang tercatat di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan dengan masa tunggu mengerikan: 47 tahun!
Apa Solusinya? Pemerintah dan DPR Punya Rencana Besar

Pemerintah dan DPR menyadari kondisi ini sangat mendesak. Salah satu langkah konkret yang sedang dilakukan adalah:

1. Bersih-bersih “Data Batu” dari Praktik Rente

Menurut Wakil Kepala BP Haji Dahnil Anzar, antrean haji selama ini dibebani oleh “data batu”—yaitu nama-nama fiktif atau tidak jelas yang hanya dijadikan alat spekulasi oleh calo atau oknum penyelenggara.

“Data batu ini ladang rente. Nama-nama tak jelas itu dijual untuk dapat jalur instan,” tegas Dahnil.

BP Haji kini tengah mengembangkan sistem real-time untuk menertibkan data dan menyingkirkan jemaah fiktif, demi mempercepat antrean yang seharusnya hanya diisi oleh orang yang benar-benar siap berangkat.