EKONOMI AS AMBRUK! Efek Tarif Trump Bikin Pabrik Mandek, PHK Massal Ancam Negeri Adidaya

KALIMANTANLIVE.COM – Perekonomian Amerika Serikat (AS) mendadak oleng! Kebijakan tarif tinggi ala Donald Trump yang semula digadang-gadang bisa menyelamatkan industri domestik, justru kini menjadi bumerang. Data terbaru menunjukkan sinyal perlambatan ekonomi yang sangat mengkhawatirkan: pabrik-pabrik seret produksi, inflasi melonjak, dan penciptaan lapangan kerja nyaris terhenti!

# Baca Juga :Presiden Prabowo Terima Panggilan dari Donald Trump, Bahas Hubungan Bilateral

# Baca Juga :Donald Trump vs Elon Musk: Tudingan Narkoba, Ancaman Politik, dan Perseteruan yang Makin Mendidih

# Baca Juga :Akhirnya Pemerintahan Presiden Donald Trump Mengumumkan Keluarnya Elon Musk dari Gedung Putih

# Baca Juga :Terduga Sniper Penembak Calon Presiden AS Donald Trump Dikabarkan Tewas Tertembak di Atas Gedung

Langkah Trump yang menaikkan tarif impor serta mengutak-atik regulasi pajak dan pengeluaran ternyata tidak memberikan efek menggembirakan. Alih-alih mendorong pertumbuhan industri, kebijakan ini malah menyeret sektor manufaktur ke jurang krisis. Sejak tarif diberlakukan pada April, AS kehilangan lebih dari 37.000 pekerjaan di sektor manufaktur!

Situasi ini makin suram setelah laporan ketenagakerjaan terbaru dirilis Jumat (1/8). Selama tiga bulan terakhir, penambahan lapangan kerja terus menurun drastis:

Juli: hanya 73.000 pekerjaan baru

Juni: 14.000 pekerjaan

Mei: 19.000 pekerjaan

Bandingkan dengan rata-rata tahun lalu yang mencapai 168.000 pekerjaan per bulan. Ini bukan sekadar penurunan—ini kolaps!

Sementara itu, inflasi pun ikut menggila. Harga barang melonjak 2,6% dalam setahun terakhir hingga Juni, lebih tinggi dari 2,2% pada April. Lonjakan harga paling tajam terjadi pada barang-barang impor seperti furnitur, elektronik, dan mainan anak—kategori yang sangat bergantung pada rantai pasok global.

Kondisi ini diperparah dengan laporan Produk Domestik Bruto (PDB) yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS hanya 1,3% secara tahunan pada paruh pertama tahun ini. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, ekonomi tumbuh hingga 2,8%.

“Ekonominya seperti jalan di tempat. Angka pengangguran memang belum naik, tapi penambahan pekerjaan sangat minim. Ekonomi AS sedang tumbuh tersendat,” ungkap Guy Berger, Minggu (3/8/2025).