Fenomena Rojali-Rohana Bikin Mal Sepi! Ini Jurus Kejutan BI untuk Dongkrak Belanja & Investasi

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Pusat perbelanjaan makin lengang! Fenomena Rojali alias rombongan jarang beli, dan Rohana alias rombongan hanya nanya, kini jadi pemandangan umum di mal-mal Tanah Air. Fenomena ini jadi alarm keras bagi otoritas moneter, termasuk Bank Indonesia (BI), bahwa daya beli masyarakat sedang melemah akibat tekanan ekonomi.

Tak tinggal diam, BI pun meluncurkan jurus andalannya: pemangkasan suku bunga acuan (BI Rate) sebanyak tiga kali sepanjang semester I-2025 demi menggenjot konsumsi dan investasi.

# Baca Juga :BREAKING CUACA! Langit Kalimantan Selatan Murung Senin Ini, Waspadai Hujan Ringan & Udara Kabur!

# Baca Juga :Semarak GOBER 2025, Sekdaprov Kalsel Ajak ASN Gowes Bareng Peringati Harjad ke-75

# Baca Juga :Wagub Kalsel dan Istri Jalin Silaturahmi Bersama PDGI se-Kalsel di Mahligai Pancasila

# Baca Juga :EKONOMI AS AMBRUK! Efek Tarif Trump Bikin Pabrik Mandek, PHK Massal Ancam Negeri Adidaya

Berikut rincian langkah BI:

Januari: BI Rate turun 25 basis poin ke 5,75%

Mei: Turun lagi ke 5,5%

Juni: Kembali dipangkas ke 5,25%

Tujuannya? Mendorong bank untuk menyalurkan kredit berbunga rendah agar masyarakat kembali berani belanja dan pelaku usaha bergairah ekspansi.

“Sehingga konsumsi dan investasi tetap tumbuh di tengah tantangan. Didukung sinergi berbagai pihak, kebijakan ini diharapkan membuka lebih banyak ruang bagi peluang usaha, akses pembiayaan, dan perputaran ekonomi berkelanjutan,” tulis BI melalui akun Instagram resminya, Minggu (3/8/2025).

Kenapa Suku Bunga Turun Penting?

BI menjelaskan, pemangkasan suku bunga berarti biaya dana (cost of fund) yang ditanggung bank menjadi lebih rendah. Artinya, bank punya ruang untuk menawarkan kredit dengan bunga lebih murah, baik untuk konsumsi pribadi maupun keperluan usaha.

Hal ini diharapkan mampu:
Menghidupkan kembali belanja masyarakat
Memacu investasi melalui ekspansi usaha
Mendorong perputaran uang di sektor riil

Namun BI juga menegaskan, keberhasilan kebijakan ini sangat tergantung pada kolaborasi strategis lintas sektor: pemerintah, pelaku usaha, perbankan, hingga konsumen.

“Sinergi adalah kunci agar efek dari kebijakan moneter ini benar-benar terasa di lapangan,” tegas BI.

(kalimantanlive.com/sumber lainnya)

editor : TRI