Fenomena Rojali dan Rohana Merebak, OJK Sebut Hal Wajar!

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Di tengah gejolak ekonomi global dan domestik, masyarakat Indonesia kini diwarnai oleh dua fenomena unik: Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya). Kedua istilah ini viral di media sosial dan kini bahkan diakui oleh otoritas keuangan tertinggi di Indonesia.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, menyebut munculnya tren Rojali dan Rohana sebagai respons wajar terhadap ketidakpastian ekonomi yang masih membayangi.

# Baca Juga :BREAKING WEATHER! Cuaca Kalimantan Selatan 5 Agustus 2025: Badai Petir Siang Hari Siaga, Warga Diminta Waspada!

# Baca Juga :Komisi III DPRD Kalsel Dorong Pemasangan Listrik bagi Rumah Tangga Miskin

# Baca Juga :Perbaikan Jembatan Sei Lenggana Ditargetkan Selesai Desember 2025, Wabup Kotim Irawati Minta Pengguna Jalan Tertib

# Baca Juga :TERIAK “BOM” & MAINKAN PEMATIK! Penumpang Lion Air JT-308 Nyaris Picu Kepanikan Massal, Terancam Diblacklist!

“Kondisi ekonomi yang tidak pasti dalam beberapa bulan terakhir membuat masyarakat cenderung menahan belanja dan berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan,” ujar Mahendra dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Komisioner OJK, Senin (4/8/2025) di Jakarta.

Belanja? Nanti Dulu, Lihat-lihat Aja Dulu

Rojali dan Rohana kini menjadi simbol perilaku belanja baru di tengah tekanan ekonomi. Mereka yang termasuk Rojali biasanya jalan-jalan ke pusat perbelanjaan namun pulang tanpa belanja, sementara Rohana ramai bertanya soal harga, promo, dan fitur produk—namun tidak membeli.

Menurut Mahendra, sikap “tunggu dan lihat” ini tidak hanya dilakukan konsumen, melainkan juga oleh produsen dan investor.

“Semuanya menahan diri, menunggu sinyal kepastian sebelum mengeluarkan dana,” jelasnya.

Daya Beli Melemah, Kepercayaan Konsumen Menurun?

Fenomena Rojali dan Rohana dinilai sebagai indikator turunnya daya beli dan menurunnya rasa percaya konsumen terhadap kondisi perekonomian saat ini. Banyak masyarakat memilih bersikap konservatif: hemat, selektif, dan tidak impulsif.

Namun OJK tetap optimistis. Mahendra meyakini bahwa tren konsumsi akan kembali meningkat jika arah kebijakan ekonomi nasional semakin jelas dan tekanan global mulai mereda.

“Begitu ada kepastian lebih kuat, konsumen akan kembali percaya diri untuk berbelanja,” ujarnya.