KUALA LUMPUR, KALIMANTANLIVE.COM — Harapan damai antara Thailand dan Kamboja kembali diuji dalam perundingan bilateral yang tengah berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia. Alih-alih mencair, suasana justru memanas setelah kedua pihak saling menuding melanggar gencatan senjata, hanya sepekan pasca bentrokan paling mematikan dalam sejarah konflik perbatasan mereka.
# Baca Juga :Terbongkar! Beras Oplosan SPG Beredar Luas hingga Pasuruan, Tersangka Raup Untung Rp13 Miliar!
# Baca Juga :Sumur Migas Diduga Milik Pertamina Meledak di Subang, Begini Kondisi Terkini!
# Baca Juga :GEGER! Stasiun Pengumpul Pertamina Subang Meledak, 2 Pekerja Terluka dan Api Menggila
# Baca Juga :BREAKING! Pemerintah dan DPR Sepakat Larangan Truk ODOL Berlaku 2027: Sopir Wajib Siap-Siap!
Perundingan Diperpanjang, Ketegangan Belum Surut
Pertemuan yang awalnya direncanakan hanya satu hari itu kini diperpanjang menjadi empat hari, menandakan tingginya sensitivitas isu yang dibahas. Forum ini digelar dalam kerangka Komite Perbatasan Umum (General Border Committee) — wadah formal penyelesaian sengketa antara kedua negara.
Perundingan dijadwalkan berakhir pada Kamis (7/8/2025) dengan agenda pertemuan menteri pertahanan dari kedua negara, serta kehadiran pengamat internasional dari Malaysia, Amerika Serikat, dan China.
Meskipun gencatan senjata resmi diteken 29 Juli 2025, setelah pertempuran lima hari yang menewaskan 43 orang dan memaksa ratusan ribu warga sipil mengungsi, realita di lapangan masih menunjukkan ketegangan akut.
Pada Minggu (3/8/2025), Kementerian Pertahanan Kamboja menuduh Thailand melanggar kesepakatan dengan menggunakan ekskavator dan memasang kawat berduri di wilayah sengketa.
Thailand membantah keras dan justru menuduh balik bahwa Kamboja memperkuat pasukan di titik-titik strategis.
“Ada laporan bahwa pihak Kamboja telah mengubah posisi dan memperkuat pasukan mereka untuk menggantikan personel yang hilang,” ujar Laksamana Muda Surasant Kongsiri, juru bicara militer Thailand.
Tuduhan Balas Tuduhan
Tak berhenti di situ, Kamboja menuntut pembebasan 18 tentaranya yang ditangkap Thailand saat bentrokan. Namun, Thailand menolak permintaan tersebut.
“Para tentara itu adalah tawanan perang dan hanya akan dibebaskan jika konflik dihentikan sepenuhnya, bukan hanya lewat gencatan senjata sementara,” tegas perwakilan militer Thailand.







