Diproduksi oleh PT Pindad di Bandung, kendaraan berpenggerak 6×6 ini mampu mengangkut hingga 10 pasukan, dan melibas berbagai medan dengan tangguh. Dirancang sebagai Armoured Personnel Carrier (APC), Anoa sanggup menghadapi serangan senjata ringan dan ledakan ranjau.
Dalam versi tempur, Anoa bahkan bisa dipersenjatai dengan senapan berat kaliber 7,62 mm hingga 12,7 mm. Kendaraan ini sering dikerahkan dalam operasi strategis, mulai dari pengamanan pemilu, demonstrasi besar, hingga evakuasi tokoh penting negara.
Kini, dua Anoa yang siaga di halaman Kejagung menjadi lebih dari sekadar kendaraan—mereka adalah pesan bahwa penegakan hukum kini dijalankan dengan pengawalan penuh kekuatan negara.
Warga Bertanya-Tanya: “Apakah Ada Operasi Besar?”
Meski pihak Kejagung dan TNI telah memberi klarifikasi, publik tetap bertanya-tanya. Apakah kehadiran panser itu pertanda bahwa Satgas PKH sedang membidik kasus besar? Ataukah memang ada ancaman nyata terhadap jaksa yang menangani perkara strategis?
Kita tunggu saja langkah selanjutnya. Tapi satu hal pasti: Kejaksaan Agung kini dijaga Anoa. Dan itu bukan hal yang biasa.
(kalimantanlive.com/sumber lainnya)
editor : TRI







